2 years ago, Posted by: satekso

Artificial Intelligence, ketika kehidupan di film Science Fiction semakin dekat.

Jika kita menonton film bergenre Science-Fiction semisal Iron Man, I-Robot, dan lain sebagainya kita akan menemukan bahwasannya jarvis sang program asisten Tony Stark dan musuh-musuh dari tokoh protagonis di I-Robot dapat bertingkah dan berpikir layaknya manusia. Robot atau program di film-film sci-fi dapat membuat keputusan terbaik sebagaimana manusia atau bahkan lebih baik daripada manusia. Hal semacam itu yang dahulu dianggap fiksi semata saat ini telah dirintis untuk diwujudkan. Seiring dengan pengembangan teknologi yang begitu pesat dalam beberapa dekade ini, manusia semakin mencari-cari cara untuk memudahkan pekerjaan mereka dalam melakukan beberapa hal. Setelah pengembangan dalam bentuk robotik yang masih terkesan “kaku”, manusia dengan kepadaiannya mulai berfikir bagaimana “meluweskan” pikiran mesin-mesin itu layaknya manusia.

Langkah yang telah dimulai adalah dengan pengembangan Artificial Inteligence atau kecerdasan buatan. AI  menurut John McCarthy [1956] Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) ialah Memodelkan proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar menirukan perilaku manusia. Sementara menurut Rich and Knight [1991]: “Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) ialah sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia, dan banyak lagi definisi dari para ahli. AI memang di proyeksikan untuk menjadi “robot yang manusia”. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan saraf tiruan dan robotika.

Secara garis besar, AI terbagi ke dalam dua paham pemikiran yaitu AI Konvensional dan Kecerdasan Komputasional (CI, Computational Intelligence). AI konvensional kebanyakan melibatkan metode-metode yang sekarang diklasifiksikan sebagai pembelajaran mesin, yang ditandai dengan formalisme dan analisis statistik. Dikenal juga sebagai AI simbolis, AI logis, AI murni dan AI cara lama (GOFAI, Good Old Fashioned Artificial Intelligence). Metode-metodenya meliputi:

  1. Sistem pakar: menerapkan kapabilitas pertimbangan untuk mencapai kesimpulan. Sebuah sistem pakar dapat memproses sejumlah besar informasi yang diketahui dan menyediakan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan pada informasi-informasi tersebut.
  2. Petimbangan berdasar kasus
  3. Jaringan Bayesian
  4. AI berdasar tingkah laku: metode modular pada pembentukan sistem AI secara manual

Kecerdasan komputasional melibatkan pengembangan atau pembelajaran iteratif (misalnya penalaan parameter seperti dalam sistem koneksionis. Pembelajaran ini berdasarkan pada data empiris dan diasosiasikan dengan AI non-simbolis, AI yang tak teratur dan perhitungan lunak. Metode-metode pokoknya meliputi:

  1. Jaringan Saraf: sistem dengan kemampuan pengenalan pola yang sangat kuat
  2. Sistem Fuzzy: teknik-teknik untuk pertimbangan di bawah ketidakpastian, telah digunakan secara meluas dalam industri modern dan sistem kendali produk konsumen.
  3. Komputasi Evolusioner: menerapkan konsep-konsep yang terinspirasi secara biologis seperti populasi, mutasi dan “survival of the fittest” untuk menghasilkan pemecahan masalah yang lebih baik.

Metode-metode ini terutama dibagi menjadi algoritme evolusioner (misalnya algoritme genetik) dan kecerdasan berkelompok (misalnya algoritme semut).

            Pengembangan kecerdasan buatan akan sangat menarik untuk diikuti. Sebab sebagaimana kita ketahui bersama bahwa teknologi merupakan dua mata uang yang memiliki kelebihan dan kekurangan dalam waktu bersamaan. Selain akan memudahkan manusia di berbagai bidang, pengembangan Artificial Intelligence juga dikhawatirkan akan membahayakan. Dikutip dari CNN Indonesia bahwa menurut seorang profesor ilmu komputer dari Cornell University, Kilian Weinberger, perasaan negatif mengenai kecerdasan buatan secara umum dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, gagasan bahwa kecerdasan buatan akan memiliki kesadaran dan akan berbalik menghancurkan manusia, dan kedua, gagasan bahwa orang-orang tidak bertanggung jawab akan menggunakan kecerdasan buatan untuk melakukan kejahatan. Oleh karena itu, kita akan menjadi saksi dan mengambil sikap sendiri tentang bagaimana pengembangan Artificial Intelligence akan mengubah hidup manusia. apakah dapat mempermudah ataupun membahayakan?.

 

Sumber :

https://id.wikipedia.org

https://www.cnnindonesia.com

https://pendidikanmu.com

https://itlearningcenter.id

 


Post Views: 357


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved