1 year ago, Posted by: sains11

TEKNOLOGI FINGERPRINT AUTHENTICATION SEBAGAI PRESENSI PERKULIAHAN

TEKNOLOGI FINGERPRINT AUTHENTICATION SEBAGAI PRESENSI PERKULIAHAN

 

BY : Muhammad Fikri Ksatria Dirgantara

Majoring Information System in Airlangga University

Surabaya, Indonesia

 

Abstract

Dalam dunia pendidikan, daftar kehadiran atau presensi menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Perguruan Tinggi biasanya menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, sehingga data presensi kurang dapat dijamin validitasnya. Perlu dibangun sistem informasi presensi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan meningkatkan keakuratan data. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian ini. Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan menggunakan teknik wawancara, studi berkas, dan observasi. Tahap kedua adalah analisis kebutuhan untuk merumuskan solusi dari permasalahan yang ada. Tahap ketiga adalah perancangan sistem menggunakan activity diagram, class diagram, dan sequence diagram. Tahap keempat adalah pembangunan sistem menggunakan bahasa pemrograman Java, php dan database MySQL. Tahap kelima adalah pengujian sistem menggunakan functional testing dan acceptance testing. Tahap terakhir adalah evaluasi sistem dengan membandingkan sistem informasi presensi yang sudah dibangun dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Hasil dari evaluasi sistem menunjukkan bahwa sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dalam hal keakuratan data dan kemudahan manajemen presensi dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan.

 

Kata Kunci : Presensi, Fingerprint Authentication, Sistem Informasi

 

Pendahuluan

Presensi merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh sejumlah dosen di perguruan tinggi. Tingkat kehadiran dalam satu perkuliahan adalah 75 persen. Ini berarti mahasiswa yang tidak menghadiri perkuliahan diatas tiga kali dinyatakan tidak lulus. Ketentuan ini mengacu kepada metode pemusatan belajar pada keaktifan mahasiswa (student active learning center). Dan sudah berjalan di berbagai perguruan tinggi. Biasanya, dosen menyampaikan peraturan ini diawal masuk kuliah sebagai kontrak belajar. . Perguruan Tinggi biasanya menggunakan sistem presensi yang memanfaatkan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa. Data presensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dosen sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian nilai mahasiswa serta sebagai bahan evaluasi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Penerapan sistem presensi perkuliahan yang menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, memberikan celah kepada mahasiswa untuk berbuat curang dalam pengisian daftar kehadiran atau presensi. Sebagai contoh ada mahasiswa yang tidak hadir dalam perkuliahan, namun di dalam daftar presensi mahasiswa tersebut tercatat hadir dalam perkuliahan. Kejadian tersebut sering dijumpai dalam kegiatan perkuliahan, sehingga data presensi tidak dapat dijamin validitasnya.

  

 

 

Selain dari sisi mahasiswa, masalah juga sering timbul dari sisi dosen dan pegawai tata usaha.Dosen sering lupa dalam mengisi kartu kendali dan jarang memonitor kehadiran mahasiswa. Pegawai tata usaha mengalami kesulitan dalam validasi dan rekapitulasi data presensi karena jumlah data yang banyak. Solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan membangun sebuah sistem yang dapat mencegah terjadinya kecurangan dalam pengisian daftar presensi dan memudahkan manajemen presensi. Solusi yang ditawarkan akan diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication yang terintegrasi dengan sistem informasi presensi. Fingerprint authentication merupakan salah satu teknologi biometric yang paling umum digunakan. Dengan digunakanya teknologi fingerprint authentication maka mahasiswa diharuskan berada pada saat perkuliahan berlangsung, karena sidik jari setiap individu bersifat unik sehingga berbeda satu dengan lainya dan bersifat tetap meskipun sidik jari akan sedikit berubah ketika terjadi luka atau memar, sidik jari akan muncul kembali seperti semula setelah jari sembuh (Maltoni, Maio, Jain, & Prabhakar, 2009). Sudah banyak terdapat penelitian yang membahas penggunaan fingerprint sebagai media otentikasi, diantaranya adalah: penelitian yang berkaitan dengan tiga teknik otentikasi. Perbedaan, keunggulan, dan kekurangan dari masing-masing teknik menyatakan bahwa teknik otentikasi berbasis teknologi biometric lebih aman, nyaman, dan lebih dapat diandalkan jika dibandingkan dengan teknik otentikasi yang lain (Khan & Zahid, 2010). Selanjutnya, penelitian yang menganalisa penggunaan berbagai macam teknologi biometric untuk meningkatkan kehadiran pegawai, dalam penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teknologi fingerprint adalah yang terbaik diantara teknologi biometric yang lain (Muhtahir, Adeyinka, & Kayode, 2013). Penelitian tentang penggunaan teknologi fingerprint authentication dalam sistem presensi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi fingerprint authentication dapat menghilangkan kecurangan dalam proses presensi (Abilimi, Opoku-Mensah, & Yeboah, 2013). Penelitian lain juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi biometric sidik jari dapat membantu manajemen presensi menjadi lebih baik dan akurat (Rao & Satoa, 2013). Penggunaan teknik otentikasi yang lebih modern juga tidak menutup kemungkinan terjadi masalah dalam pelaksanaanya mulai dari penggunaan teknik knowledge based (PIN atau password) dan token based (ID card, Passpor), kedua metode tersebut juga rentan dalam hal sekuritas misalnya saja PIN atau password yang bisa saja lupa atau dihack, ID card hilang, diduplikasi atau bahkan dicuri (Lourde & Khosla, 2010).

Diskusi

 

            Sistem presensi sudah ada sejak jaman sebelum masa penjajahan, sistem tersebut biasanya diiringi dengan berjalannya suatu kegiatan yang diikuti oleh beberapa orang ataupun kelompok. Mulai dari lingkungan wilayah yang kecil yaitu absensi murid – murid, pegawai sekolahan, dan para guru. Hingga lingkungan wilayah yang besar, salah satunya adalah Tentara Republik Indonesia ( TNI ) yang akan diberangkatkan ke medan perang. Mereka harus memastikan para prajurit yang akan dikirim sudah berkumpul semua.

secara umum presensi adalah untuk mengetahui kehadiran dan ketidak hadiran orang tersebut, perizinan untuk tidak menikuti kegiatan  atau meninggalkan kegiatan, serta menertibkan peserta didalam kegiatan tersebut agar selalu hadir tepat waktu dan memastikan apakah peserta mengikuti kegiatan secara efektif. Sehingga presensi memiliki peran yang sangat penting dalam ketertiban kegiatan ini. Dalam dunia pekerjaan, pastinya sebagai Pemilik perusahaan atau Bos ingin mengetahui keaktifan para pegawainya. Salah satu contohnya adalah dengan mengecek presensi di akhir hari sebelum kegiatan bekerja berakhir. Biasanya dengan aktifnya pegawai yang melakukan absensi yang tidak pernah lupa melakukan absensi, bos perusahaan pasti akan memberikan tambahan bonus kepada pegawainya sebagai tanda apresiasi karena telah bekerja dengan aktif. Namun terkadang ada pegawai yang bersikap tidak terpuji. Mereka meminta teman mereka untuk memalsukan absensi dengan cara menirukan tanda tangan pegawai yang tidak masuk alias bolos agar tetap mendapatkan bonus dari penuhnya daftar absensi.

Hal ini juga berlaku di kehidupan perkuliahan. Rata – rata perguruan tinggi di Indonesia masih melakukan absensi dengan cara manual yaitu dengan melakukan tanda tangan. Tanda tangannya pun dilakukan sembari kegiatan belajar mengajar diadakan sehingga jika dosen lengah atau tidak melakukan pengecekan ulang terhadap mahasiswa yang hadir, maka ada celah yang dapat dimanfaatkan para mahasiswa yang curang ini.

Saat ini telah berkembang teknologi fingerprint untuk berbagai hal keamanan. Keamanan menggunakan fingerprint cukup mustahil untuk dipalsukan. Awal mula sejarah fingerprint dikembangkan sebagai teknologi sehari-hari dimulai sekitar tahun 1890 saat seorang ilmuwan dari Inggris bernama Sir Francis Galton mengemukakan sebuah gagasan ilmiah dalam menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi seorang pelaku perbuatan kriminal. Awalnya pada sekitar tahun 1880, secara ilmiah Galton mempelajari sidik jari untuk menyelidiki kesamaan genetik dan pola keturunan. Pada penelitian tersebut, Galton menarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun sidik jari yang sama meski memiliki tipe yang sama, titik-titik pada sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, Galton menyatakan bahwa sidik jari bisa digunakan untuk mengenali identitas seseorang. Perkembangan teknologi fingerprint terus berkembang, FBI juga mulai menggunakan sistem identifikasi sidik jari pada tahun 1924 khususnya bagi para pelaku kriminal. Hingga saat ini, FBI dan kepolisian negara lain termasuk Indonesia telah mengembangkan sistem identifikasi sidik jari yang canggih.

Teknologi fingerprint yang sudah dikenal di seluruh dunia bahwa setiap orang memiliki pola sidik jari yang berbeda – beda. Sehingga sangat mustahil jika sidik jari dipalsukan. Teknologi inilah yang dikembangkan menjadi mesin absensi yang memanfaatkan fingerprint teknologi. Pihak perguruan tinggi menganggap bahwa mesin absensi dengan teknologi fingerprint menjadi salah satu solusi paling mujarab. Cocok jika mesin tersebut ditempatkan di semua kelas dan di program untuk digunakan sebelum perkuliahan dimulai dan setelah perkuliahan berakhir. Dengan pemberlakuan fingerprint ini, dimungkinkan mahasiswa yang semula terbiasa titip absen (TA) akan mengalami kesulitan melakukan aksinya lagi. Hal ini disebabkan mahasiswa harus melakukan presensi sendiri. Berbeda jika presensi dilakukan dengan sistem tanda tangan yang berpotensi adanya tindakan kecurangan

 

Kesimpulan

         

            Banyak sekali faktor – faktor yang menyebabkan mahasiswa memilih untuk melakukan Titip Absen ( TA ). Layaknya anak sekolahan, yang hanya ingin bolos saja dengan mengambil jatah bolos, tidak tertarik dengan mata kuliah yang sedang berlangsung, dosen yang tidak masuk dan hanya memberi tugas saja, dan masih banyak lagi. Walaupun dengan berbagai macam alasan, seharusnya mahasiswa harusnya telah mengetahui kewajiban dan konsekuensi menjadi mahasiswa, seharusnya mahasiswa memiliki pola pikir yang lebih dewasa agar lebih bijak mem - filter melakukan hal – hal yang kurang baik bagi mahasiswa.

            Terlebih lagi, ada salah satu faktor mengapa mahasiswa sedikit malas mengikuti kegiatan perkuliahan, yaitu dosen yang mengajarkan materi perkuliahan dengan cara yang tidak menarik ataupun sulit dipahami bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa malas untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan memilih belajar diluar jam perkuliahan tersebut. Hal itu mungkin dapat dikaji ulang oleh pihak insititut atau perguruan tinggi dalam memperbaiki kualitas belajar mengajar.

 

            Jadi, intinya adalah tidak selamanya mahasiswa yang melakukan Titip Absen buruk, namun mahasiswa harusnya sadar akan betapa pentingnya ilmu yang dipelajari diperkuliahan untuk bekal dalam dunia kerja nanti. Fingerprint hanya menjadi alat bantu membuat mahasiswa mengurangi kecurangan yang dilakukan. Tetapi tidak dapat 100% mengubah perilaku mahasiswa menjadi sama persis apa yang diinginkan oleh pihak institute atau universitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fakih, A., Raharjana, IK., & Zaman, B.(2015). Pemanfaatan Teknologi Fingerprint Authentication untuk Otomatisasi Presensi Perkuliahan. Journal of Information Systems Engineering and Business Intelligence, 1(2), 41-48

Fenomenus, Cerita Calon Guru ( 2013 ) . Penyebab Mahasiswa kecanduan TA. Dikutip dari : http://www.shaktinugroho.com/2013/06/5-hal-penyebab-mahasiswa-kecanduan-ta.html

Ferri ( 20 Februari 2019 ).  Sejarah Fingerprint Sebagai Teknologi Sehari – hari. Dikutip dari : https://www.biometrik.id/sejarah-fingerprint-sebagai-teknologi-sehari-hari.html

Lailatul, A,. Aditya, P., & Fakhrurrazi, M.(2012). Efektifkah Penerapan Presensi Fingerprint di Kampus?. http://www.balairungpress.com/2012/04/efektifkah-penerapan-presensi-fingerprint-di-kampus/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019

Hermawan.(2019). Pengertian Fingerprint Beserta Fungsi dan Cara Kerja Fingerprint. https://www.nesabamedia.com/pengertian-fingerprint/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019         

TEKNOLOGI FINGERPRINT AUTHENTICATION SEBAGAI PRESENSI PERKULIAHAN

 

BY : Muhammad Fikri Ksatria Dirgantara

Majoring Information System in Airlangga University

Surabaya, Indonesia

 

Abstract

Dalam dunia pendidikan, daftar kehadiran atau presensi menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Perguruan Tinggi biasanya menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, sehingga data presensi kurang dapat dijamin validitasnya. Perlu dibangun sistem informasi presensi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan meningkatkan keakuratan data. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian ini. Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan menggunakan teknik wawancara, studi berkas, dan observasi. Tahap kedua adalah analisis kebutuhan untuk merumuskan solusi dari permasalahan yang ada. Tahap ketiga adalah perancangan sistem menggunakan activity diagram, class diagram, dan sequence diagram. Tahap keempat adalah pembangunan sistem menggunakan bahasa pemrograman Java, php dan database MySQL. Tahap kelima adalah pengujian sistem menggunakan functional testing dan acceptance testing. Tahap terakhir adalah evaluasi sistem dengan membandingkan sistem informasi presensi yang sudah dibangun dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Hasil dari evaluasi sistem menunjukkan bahwa sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dalam hal keakuratan data dan kemudahan manajemen presensi dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan.

 

Kata Kunci : Presensi, Fingerprint Authentication, Sistem Informasi

 

Pendahuluan

Presensi merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh sejumlah dosen di perguruan tinggi. Tingkat kehadiran dalam satu perkuliahan adalah 75 persen. Ini berarti mahasiswa yang tidak menghadiri perkuliahan diatas tiga kali dinyatakan tidak lulus. Ketentuan ini mengacu kepada metode pemusatan belajar pada keaktifan mahasiswa (student active learning center). Dan sudah berjalan di berbagai perguruan tinggi. Biasanya, dosen menyampaikan peraturan ini diawal masuk kuliah sebagai kontrak belajar. . Perguruan Tinggi biasanya menggunakan sistem presensi yang memanfaatkan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa. Data presensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dosen sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian nilai mahasiswa serta sebagai bahan evaluasi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Penerapan sistem presensi perkuliahan yang menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, memberikan celah kepada mahasiswa untuk berbuat curang dalam pengisian daftar kehadiran atau presensi. Sebagai contoh ada mahasiswa yang tidak hadir dalam perkuliahan, namun di dalam daftar presensi mahasiswa tersebut tercatat hadir dalam perkuliahan. Kejadian tersebut sering dijumpai dalam kegiatan perkuliahan, sehingga data presensi tidak dapat dijamin validitasnya.

  

 

 

Selain dari sisi mahasiswa, masalah juga sering timbul dari sisi dosen dan pegawai tata usaha.Dosen sering lupa dalam mengisi kartu kendali dan jarang memonitor kehadiran mahasiswa. Pegawai tata usaha mengalami kesulitan dalam validasi dan rekapitulasi data presensi karena jumlah data yang banyak. Solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan membangun sebuah sistem yang dapat mencegah terjadinya kecurangan dalam pengisian daftar presensi dan memudahkan manajemen presensi. Solusi yang ditawarkan akan diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication yang terintegrasi dengan sistem informasi presensi. Fingerprint authentication merupakan salah satu teknologi biometric yang paling umum digunakan. Dengan digunakanya teknologi fingerprint authentication maka mahasiswa diharuskan berada pada saat perkuliahan berlangsung, karena sidik jari setiap individu bersifat unik sehingga berbeda satu dengan lainya dan bersifat tetap meskipun sidik jari akan sedikit berubah ketika terjadi luka atau memar, sidik jari akan muncul kembali seperti semula setelah jari sembuh (Maltoni, Maio, Jain, & Prabhakar, 2009). Sudah banyak terdapat penelitian yang membahas penggunaan fingerprint sebagai media otentikasi, diantaranya adalah: penelitian yang berkaitan dengan tiga teknik otentikasi. Perbedaan, keunggulan, dan kekurangan dari masing-masing teknik menyatakan bahwa teknik otentikasi berbasis teknologi biometric lebih aman, nyaman, dan lebih dapat diandalkan jika dibandingkan dengan teknik otentikasi yang lain (Khan & Zahid, 2010). Selanjutnya, penelitian yang menganalisa penggunaan berbagai macam teknologi biometric untuk meningkatkan kehadiran pegawai, dalam penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teknologi fingerprint adalah yang terbaik diantara teknologi biometric yang lain (Muhtahir, Adeyinka, & Kayode, 2013). Penelitian tentang penggunaan teknologi fingerprint authentication dalam sistem presensi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi fingerprint authentication dapat menghilangkan kecurangan dalam proses presensi (Abilimi, Opoku-Mensah, & Yeboah, 2013). Penelitian lain juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi biometric sidik jari dapat membantu manajemen presensi menjadi lebih baik dan akurat (Rao & Satoa, 2013). Penggunaan teknik otentikasi yang lebih modern juga tidak menutup kemungkinan terjadi masalah dalam pelaksanaanya mulai dari penggunaan teknik knowledge based (PIN atau password) dan token based (ID card, Passpor), kedua metode tersebut juga rentan dalam hal sekuritas misalnya saja PIN atau password yang bisa saja lupa atau dihack, ID card hilang, diduplikasi atau bahkan dicuri (Lourde & Khosla, 2010).

Diskusi

 

            Sistem presensi sudah ada sejak jaman sebelum masa penjajahan, sistem tersebut biasanya diiringi dengan berjalannya suatu kegiatan yang diikuti oleh beberapa orang ataupun kelompok. Mulai dari lingkungan wilayah yang kecil yaitu absensi murid – murid, pegawai sekolahan, dan para guru. Hingga lingkungan wilayah yang besar, salah satunya adalah Tentara Republik Indonesia ( TNI ) yang akan diberangkatkan ke medan perang. Mereka harus memastikan para prajurit yang akan dikirim sudah berkumpul semua.

secara umum presensi adalah untuk mengetahui kehadiran dan ketidak hadiran orang tersebut, perizinan untuk tidak menikuti kegiatan  atau meninggalkan kegiatan, serta menertibkan peserta didalam kegiatan tersebut agar selalu hadir tepat waktu dan memastikan apakah peserta mengikuti kegiatan secara efektif. Sehingga presensi memiliki peran yang sangat penting dalam ketertiban kegiatan ini. Dalam dunia pekerjaan, pastinya sebagai Pemilik perusahaan atau Bos ingin mengetahui keaktifan para pegawainya. Salah satu contohnya adalah dengan mengecek presensi di akhir hari sebelum kegiatan bekerja berakhir. Biasanya dengan aktifnya pegawai yang melakukan absensi yang tidak pernah lupa melakukan absensi, bos perusahaan pasti akan memberikan tambahan bonus kepada pegawainya sebagai tanda apresiasi karena telah bekerja dengan aktif. Namun terkadang ada pegawai yang bersikap tidak terpuji. Mereka meminta teman mereka untuk memalsukan absensi dengan cara menirukan tanda tangan pegawai yang tidak masuk alias bolos agar tetap mendapatkan bonus dari penuhnya daftar absensi.

Hal ini juga berlaku di kehidupan perkuliahan. Rata – rata perguruan tinggi di Indonesia masih melakukan absensi dengan cara manual yaitu dengan melakukan tanda tangan. Tanda tangannya pun dilakukan sembari kegiatan belajar mengajar diadakan sehingga jika dosen lengah atau tidak melakukan pengecekan ulang terhadap mahasiswa yang hadir, maka ada celah yang dapat dimanfaatkan para mahasiswa yang curang ini.

Saat ini telah berkembang teknologi fingerprint untuk berbagai hal keamanan. Keamanan menggunakan fingerprint cukup mustahil untuk dipalsukan. Awal mula sejarah fingerprint dikembangkan sebagai teknologi sehari-hari dimulai sekitar tahun 1890 saat seorang ilmuwan dari Inggris bernama Sir Francis Galton mengemukakan sebuah gagasan ilmiah dalam menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi seorang pelaku perbuatan kriminal. Awalnya pada sekitar tahun 1880, secara ilmiah Galton mempelajari sidik jari untuk menyelidiki kesamaan genetik dan pola keturunan. Pada penelitian tersebut, Galton menarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun sidik jari yang sama meski memiliki tipe yang sama, titik-titik pada sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, Galton menyatakan bahwa sidik jari bisa digunakan untuk mengenali identitas seseorang. Perkembangan teknologi fingerprint terus berkembang, FBI juga mulai menggunakan sistem identifikasi sidik jari pada tahun 1924 khususnya bagi para pelaku kriminal. Hingga saat ini, FBI dan kepolisian negara lain termasuk Indonesia telah mengembangkan sistem identifikasi sidik jari yang canggih.

Teknologi fingerprint yang sudah dikenal di seluruh dunia bahwa setiap orang memiliki pola sidik jari yang berbeda – beda. Sehingga sangat mustahil jika sidik jari dipalsukan. Teknologi inilah yang dikembangkan menjadi mesin absensi yang memanfaatkan fingerprint teknologi. Pihak perguruan tinggi menganggap bahwa mesin absensi dengan teknologi fingerprint menjadi salah satu solusi paling mujarab. Cocok jika mesin tersebut ditempatkan di semua kelas dan di program untuk digunakan sebelum perkuliahan dimulai dan setelah perkuliahan berakhir. Dengan pemberlakuan fingerprint ini, dimungkinkan mahasiswa yang semula terbiasa titip absen (TA) akan mengalami kesulitan melakukan aksinya lagi. Hal ini disebabkan mahasiswa harus melakukan presensi sendiri. Berbeda jika presensi dilakukan dengan sistem tanda tangan yang berpotensi adanya tindakan kecurangan

 

Kesimpulan

         

            Banyak sekali faktor – faktor yang menyebabkan mahasiswa memilih untuk melakukan Titip Absen ( TA ). Layaknya anak sekolahan, yang hanya ingin bolos saja dengan mengambil jatah bolos, tidak tertarik dengan mata kuliah yang sedang berlangsung, dosen yang tidak masuk dan hanya memberi tugas saja, dan masih banyak lagi. Walaupun dengan berbagai macam alasan, seharusnya mahasiswa harusnya telah mengetahui kewajiban dan konsekuensi menjadi mahasiswa, seharusnya mahasiswa memiliki pola pikir yang lebih dewasa agar lebih bijak mem - filter melakukan hal – hal yang kurang baik bagi mahasiswa.

            Terlebih lagi, ada salah satu faktor mengapa mahasiswa sedikit malas mengikuti kegiatan perkuliahan, yaitu dosen yang mengajarkan materi perkuliahan dengan cara yang tidak menarik ataupun sulit dipahami bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa malas untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan memilih belajar diluar jam perkuliahan tersebut. Hal itu mungkin dapat dikaji ulang oleh pihak insititut atau perguruan tinggi dalam memperbaiki kualitas belajar mengajar.

 

            Jadi, intinya adalah tidak selamanya mahasiswa yang melakukan Titip Absen buruk, namun mahasiswa harusnya sadar akan betapa pentingnya ilmu yang dipelajari diperkuliahan untuk bekal dalam dunia kerja nanti. Fingerprint hanya menjadi alat bantu membuat mahasiswa mengurangi kecurangan yang dilakukan. Tetapi tidak dapat 100% mengubah perilaku mahasiswa menjadi sama persis apa yang diinginkan oleh pihak institute atau universitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fakih, A., Raharjana, IK., & Zaman, B.(2015). Pemanfaatan Teknologi Fingerprint Authentication untuk Otomatisasi Presensi Perkuliahan. Journal of Information Systems Engineering and Business Intelligence, 1(2), 41-48

Fenomenus, Cerita Calon Guru ( 2013 ) . Penyebab Mahasiswa kecanduan TA. Dikutip dari : http://www.shaktinugroho.com/2013/06/5-hal-penyebab-mahasiswa-kecanduan-ta.html

Ferri ( 20 Februari 2019 ).  Sejarah Fingerprint Sebagai Teknologi Sehari – hari. Dikutip dari : https://www.biometrik.id/sejarah-fingerprint-sebagai-teknologi-sehari-hari.html

Lailatul, A,. Aditya, P., & Fakhrurrazi, M.(2012). Efektifkah Penerapan Presensi Fingerprint di Kampus?. http://www.balairungpress.com/2012/04/efektifkah-penerapan-presensi-fingerprint-di-kampus/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019

Hermawan.(2019). Pengertian Fingerprint Beserta Fungsi dan Cara Kerja Fingerprint. https://www.nesabamedia.com/pengertian-fingerprint/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019         

TEKNOLOGI FINGERPRINT AUTHENTICATION SEBAGAI PRESENSI PERKULIAHAN

 

BY : Muhammad Fikri Ksatria Dirgantara

Majoring Information System in Airlangga University

Surabaya, Indonesia

 

Abstract

Dalam dunia pendidikan, daftar kehadiran atau presensi menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Perguruan Tinggi biasanya menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, sehingga data presensi kurang dapat dijamin validitasnya. Perlu dibangun sistem informasi presensi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan meningkatkan keakuratan data. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian ini. Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan menggunakan teknik wawancara, studi berkas, dan observasi. Tahap kedua adalah analisis kebutuhan untuk merumuskan solusi dari permasalahan yang ada. Tahap ketiga adalah perancangan sistem menggunakan activity diagram, class diagram, dan sequence diagram. Tahap keempat adalah pembangunan sistem menggunakan bahasa pemrograman Java, php dan database MySQL. Tahap kelima adalah pengujian sistem menggunakan functional testing dan acceptance testing. Tahap terakhir adalah evaluasi sistem dengan membandingkan sistem informasi presensi yang sudah dibangun dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Hasil dari evaluasi sistem menunjukkan bahwa sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dalam hal keakuratan data dan kemudahan manajemen presensi dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan.

 

Kata Kunci : Presensi, Fingerprint Authentication, Sistem Informasi

 

Pendahuluan

Presensi merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh sejumlah dosen di perguruan tinggi. Tingkat kehadiran dalam satu perkuliahan adalah 75 persen. Ini berarti mahasiswa yang tidak menghadiri perkuliahan diatas tiga kali dinyatakan tidak lulus. Ketentuan ini mengacu kepada metode pemusatan belajar pada keaktifan mahasiswa (student active learning center). Dan sudah berjalan di berbagai perguruan tinggi. Biasanya, dosen menyampaikan peraturan ini diawal masuk kuliah sebagai kontrak belajar. . Perguruan Tinggi biasanya menggunakan sistem presensi yang memanfaatkan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa. Data presensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dosen sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian nilai mahasiswa serta sebagai bahan evaluasi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Penerapan sistem presensi perkuliahan yang menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, memberikan celah kepada mahasiswa untuk berbuat curang dalam pengisian daftar kehadiran atau presensi. Sebagai contoh ada mahasiswa yang tidak hadir dalam perkuliahan, namun di dalam daftar presensi mahasiswa tersebut tercatat hadir dalam perkuliahan. Kejadian tersebut sering dijumpai dalam kegiatan perkuliahan, sehingga data presensi tidak dapat dijamin validitasnya.

  

 

 

Selain dari sisi mahasiswa, masalah juga sering timbul dari sisi dosen dan pegawai tata usaha.Dosen sering lupa dalam mengisi kartu kendali dan jarang memonitor kehadiran mahasiswa. Pegawai tata usaha mengalami kesulitan dalam validasi dan rekapitulasi data presensi karena jumlah data yang banyak. Solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan membangun sebuah sistem yang dapat mencegah terjadinya kecurangan dalam pengisian daftar presensi dan memudahkan manajemen presensi. Solusi yang ditawarkan akan diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication yang terintegrasi dengan sistem informasi presensi. Fingerprint authentication merupakan salah satu teknologi biometric yang paling umum digunakan. Dengan digunakanya teknologi fingerprint authentication maka mahasiswa diharuskan berada pada saat perkuliahan berlangsung, karena sidik jari setiap individu bersifat unik sehingga berbeda satu dengan lainya dan bersifat tetap meskipun sidik jari akan sedikit berubah ketika terjadi luka atau memar, sidik jari akan muncul kembali seperti semula setelah jari sembuh (Maltoni, Maio, Jain, & Prabhakar, 2009). Sudah banyak terdapat penelitian yang membahas penggunaan fingerprint sebagai media otentikasi, diantaranya adalah: penelitian yang berkaitan dengan tiga teknik otentikasi. Perbedaan, keunggulan, dan kekurangan dari masing-masing teknik menyatakan bahwa teknik otentikasi berbasis teknologi biometric lebih aman, nyaman, dan lebih dapat diandalkan jika dibandingkan dengan teknik otentikasi yang lain (Khan & Zahid, 2010). Selanjutnya, penelitian yang menganalisa penggunaan berbagai macam teknologi biometric untuk meningkatkan kehadiran pegawai, dalam penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teknologi fingerprint adalah yang terbaik diantara teknologi biometric yang lain (Muhtahir, Adeyinka, & Kayode, 2013). Penelitian tentang penggunaan teknologi fingerprint authentication dalam sistem presensi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi fingerprint authentication dapat menghilangkan kecurangan dalam proses presensi (Abilimi, Opoku-Mensah, & Yeboah, 2013). Penelitian lain juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi biometric sidik jari dapat membantu manajemen presensi menjadi lebih baik dan akurat (Rao & Satoa, 2013). Penggunaan teknik otentikasi yang lebih modern juga tidak menutup kemungkinan terjadi masalah dalam pelaksanaanya mulai dari penggunaan teknik knowledge based (PIN atau password) dan token based (ID card, Passpor), kedua metode tersebut juga rentan dalam hal sekuritas misalnya saja PIN atau password yang bisa saja lupa atau dihack, ID card hilang, diduplikasi atau bahkan dicuri (Lourde & Khosla, 2010).

Diskusi

 

            Sistem presensi sudah ada sejak jaman sebelum masa penjajahan, sistem tersebut biasanya diiringi dengan berjalannya suatu kegiatan yang diikuti oleh beberapa orang ataupun kelompok. Mulai dari lingkungan wilayah yang kecil yaitu absensi murid – murid, pegawai sekolahan, dan para guru. Hingga lingkungan wilayah yang besar, salah satunya adalah Tentara Republik Indonesia ( TNI ) yang akan diberangkatkan ke medan perang. Mereka harus memastikan para prajurit yang akan dikirim sudah berkumpul semua.

secara umum presensi adalah untuk mengetahui kehadiran dan ketidak hadiran orang tersebut, perizinan untuk tidak menikuti kegiatan  atau meninggalkan kegiatan, serta menertibkan peserta didalam kegiatan tersebut agar selalu hadir tepat waktu dan memastikan apakah peserta mengikuti kegiatan secara efektif. Sehingga presensi memiliki peran yang sangat penting dalam ketertiban kegiatan ini. Dalam dunia pekerjaan, pastinya sebagai Pemilik perusahaan atau Bos ingin mengetahui keaktifan para pegawainya. Salah satu contohnya adalah dengan mengecek presensi di akhir hari sebelum kegiatan bekerja berakhir. Biasanya dengan aktifnya pegawai yang melakukan absensi yang tidak pernah lupa melakukan absensi, bos perusahaan pasti akan memberikan tambahan bonus kepada pegawainya sebagai tanda apresiasi karena telah bekerja dengan aktif. Namun terkadang ada pegawai yang bersikap tidak terpuji. Mereka meminta teman mereka untuk memalsukan absensi dengan cara menirukan tanda tangan pegawai yang tidak masuk alias bolos agar tetap mendapatkan bonus dari penuhnya daftar absensi.

Hal ini juga berlaku di kehidupan perkuliahan. Rata – rata perguruan tinggi di Indonesia masih melakukan absensi dengan cara manual yaitu dengan melakukan tanda tangan. Tanda tangannya pun dilakukan sembari kegiatan belajar mengajar diadakan sehingga jika dosen lengah atau tidak melakukan pengecekan ulang terhadap mahasiswa yang hadir, maka ada celah yang dapat dimanfaatkan para mahasiswa yang curang ini.

Saat ini telah berkembang teknologi fingerprint untuk berbagai hal keamanan. Keamanan menggunakan fingerprint cukup mustahil untuk dipalsukan. Awal mula sejarah fingerprint dikembangkan sebagai teknologi sehari-hari dimulai sekitar tahun 1890 saat seorang ilmuwan dari Inggris bernama Sir Francis Galton mengemukakan sebuah gagasan ilmiah dalam menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi seorang pelaku perbuatan kriminal. Awalnya pada sekitar tahun 1880, secara ilmiah Galton mempelajari sidik jari untuk menyelidiki kesamaan genetik dan pola keturunan. Pada penelitian tersebut, Galton menarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun sidik jari yang sama meski memiliki tipe yang sama, titik-titik pada sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, Galton menyatakan bahwa sidik jari bisa digunakan untuk mengenali identitas seseorang. Perkembangan teknologi fingerprint terus berkembang, FBI juga mulai menggunakan sistem identifikasi sidik jari pada tahun 1924 khususnya bagi para pelaku kriminal. Hingga saat ini, FBI dan kepolisian negara lain termasuk Indonesia telah mengembangkan sistem identifikasi sidik jari yang canggih.

Teknologi fingerprint yang sudah dikenal di seluruh dunia bahwa setiap orang memiliki pola sidik jari yang berbeda – beda. Sehingga sangat mustahil jika sidik jari dipalsukan. Teknologi inilah yang dikembangkan menjadi mesin absensi yang memanfaatkan fingerprint teknologi. Pihak perguruan tinggi menganggap bahwa mesin absensi dengan teknologi fingerprint menjadi salah satu solusi paling mujarab. Cocok jika mesin tersebut ditempatkan di semua kelas dan di program untuk digunakan sebelum perkuliahan dimulai dan setelah perkuliahan berakhir. Dengan pemberlakuan fingerprint ini, dimungkinkan mahasiswa yang semula terbiasa titip absen (TA) akan mengalami kesulitan melakukan aksinya lagi. Hal ini disebabkan mahasiswa harus melakukan presensi sendiri. Berbeda jika presensi dilakukan dengan sistem tanda tangan yang berpotensi adanya tindakan kecurangan

 

Kesimpulan

         

            Banyak sekali faktor – faktor yang menyebabkan mahasiswa memilih untuk melakukan Titip Absen ( TA ). Layaknya anak sekolahan, yang hanya ingin bolos saja dengan mengambil jatah bolos, tidak tertarik dengan mata kuliah yang sedang berlangsung, dosen yang tidak masuk dan hanya memberi tugas saja, dan masih banyak lagi. Walaupun dengan berbagai macam alasan, seharusnya mahasiswa harusnya telah mengetahui kewajiban dan konsekuensi menjadi mahasiswa, seharusnya mahasiswa memiliki pola pikir yang lebih dewasa agar lebih bijak mem - filter melakukan hal – hal yang kurang baik bagi mahasiswa.

            Terlebih lagi, ada salah satu faktor mengapa mahasiswa sedikit malas mengikuti kegiatan perkuliahan, yaitu dosen yang mengajarkan materi perkuliahan dengan cara yang tidak menarik ataupun sulit dipahami bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa malas untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan memilih belajar diluar jam perkuliahan tersebut. Hal itu mungkin dapat dikaji ulang oleh pihak insititut atau perguruan tinggi dalam memperbaiki kualitas belajar mengajar.

 

            Jadi, intinya adalah tidak selamanya mahasiswa yang melakukan Titip Absen buruk, namun mahasiswa harusnya sadar akan betapa pentingnya ilmu yang dipelajari diperkuliahan untuk bekal dalam dunia kerja nanti. Fingerprint hanya menjadi alat bantu membuat mahasiswa mengurangi kecurangan yang dilakukan. Tetapi tidak dapat 100% mengubah perilaku mahasiswa menjadi sama persis apa yang diinginkan oleh pihak institute atau universitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fakih, A., Raharjana, IK., & Zaman, B.(2015). Pemanfaatan Teknologi Fingerprint Authentication untuk Otomatisasi Presensi Perkuliahan. Journal of Information Systems Engineering and Business Intelligence, 1(2), 41-48

Fenomenus, Cerita Calon Guru ( 2013 ) . Penyebab Mahasiswa kecanduan TA. Dikutip dari : http://www.shaktinugroho.com/2013/06/5-hal-penyebab-mahasiswa-kecanduan-ta.html

Ferri ( 20 Februari 2019 ).  Sejarah Fingerprint Sebagai Teknologi Sehari – hari. Dikutip dari : https://www.biometrik.id/sejarah-fingerprint-sebagai-teknologi-sehari-hari.html

Lailatul, A,. Aditya, P., & Fakhrurrazi, M.(2012). Efektifkah Penerapan Presensi Fingerprint di Kampus?. http://www.balairungpress.com/2012/04/efektifkah-penerapan-presensi-fingerprint-di-kampus/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019

Hermawan.(2019). Pengertian Fingerprint Beserta Fungsi dan Cara Kerja Fingerprint. https://www.nesabamedia.com/pengertian-fingerprint/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019         

TEKNOLOGI FINGERPRINT AUTHENTICATION SEBAGAI PRESENSI PERKULIAHAN

 

BY : Muhammad Fikri Ksatria Dirgantara

Majoring Information System in Airlangga University

Surabaya, Indonesia

 

Abstract

Dalam dunia pendidikan, daftar kehadiran atau presensi menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Perguruan Tinggi biasanya menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, sehingga data presensi kurang dapat dijamin validitasnya. Perlu dibangun sistem informasi presensi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan meningkatkan keakuratan data. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Terdapat beberapa tahapan dalam penelitian ini. Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan menggunakan teknik wawancara, studi berkas, dan observasi. Tahap kedua adalah analisis kebutuhan untuk merumuskan solusi dari permasalahan yang ada. Tahap ketiga adalah perancangan sistem menggunakan activity diagram, class diagram, dan sequence diagram. Tahap keempat adalah pembangunan sistem menggunakan bahasa pemrograman Java, php dan database MySQL. Tahap kelima adalah pengujian sistem menggunakan functional testing dan acceptance testing. Tahap terakhir adalah evaluasi sistem dengan membandingkan sistem informasi presensi yang sudah dibangun dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan. Hasil dari evaluasi sistem menunjukkan bahwa sistem informasi presensi dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication lebih baik dalam hal keakuratan data dan kemudahan manajemen presensi dibandingkan dengan sistem presensi konvensional yang selama ini digunakan.

 

Kata Kunci : Presensi, Fingerprint Authentication, Sistem Informasi

 

Pendahuluan

Presensi merupakan faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar dan evaluasi. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh sejumlah dosen di perguruan tinggi. Tingkat kehadiran dalam satu perkuliahan adalah 75 persen. Ini berarti mahasiswa yang tidak menghadiri perkuliahan diatas tiga kali dinyatakan tidak lulus. Ketentuan ini mengacu kepada metode pemusatan belajar pada keaktifan mahasiswa (student active learning center). Dan sudah berjalan di berbagai perguruan tinggi. Biasanya, dosen menyampaikan peraturan ini diawal masuk kuliah sebagai kontrak belajar. . Perguruan Tinggi biasanya menggunakan sistem presensi yang memanfaatkan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa. Data presensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dosen sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian nilai mahasiswa serta sebagai bahan evaluasi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Penerapan sistem presensi perkuliahan yang menggunakan tanda tangan sebagai bukti kehadiran mahasiswa, memberikan celah kepada mahasiswa untuk berbuat curang dalam pengisian daftar kehadiran atau presensi. Sebagai contoh ada mahasiswa yang tidak hadir dalam perkuliahan, namun di dalam daftar presensi mahasiswa tersebut tercatat hadir dalam perkuliahan. Kejadian tersebut sering dijumpai dalam kegiatan perkuliahan, sehingga data presensi tidak dapat dijamin validitasnya.

  

 

 

Selain dari sisi mahasiswa, masalah juga sering timbul dari sisi dosen dan pegawai tata usaha.Dosen sering lupa dalam mengisi kartu kendali dan jarang memonitor kehadiran mahasiswa. Pegawai tata usaha mengalami kesulitan dalam validasi dan rekapitulasi data presensi karena jumlah data yang banyak. Solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah dengan membangun sebuah sistem yang dapat mencegah terjadinya kecurangan dalam pengisian daftar presensi dan memudahkan manajemen presensi. Solusi yang ditawarkan akan diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi fingerprint authentication yang terintegrasi dengan sistem informasi presensi. Fingerprint authentication merupakan salah satu teknologi biometric yang paling umum digunakan. Dengan digunakanya teknologi fingerprint authentication maka mahasiswa diharuskan berada pada saat perkuliahan berlangsung, karena sidik jari setiap individu bersifat unik sehingga berbeda satu dengan lainya dan bersifat tetap meskipun sidik jari akan sedikit berubah ketika terjadi luka atau memar, sidik jari akan muncul kembali seperti semula setelah jari sembuh (Maltoni, Maio, Jain, & Prabhakar, 2009). Sudah banyak terdapat penelitian yang membahas penggunaan fingerprint sebagai media otentikasi, diantaranya adalah: penelitian yang berkaitan dengan tiga teknik otentikasi. Perbedaan, keunggulan, dan kekurangan dari masing-masing teknik menyatakan bahwa teknik otentikasi berbasis teknologi biometric lebih aman, nyaman, dan lebih dapat diandalkan jika dibandingkan dengan teknik otentikasi yang lain (Khan & Zahid, 2010). Selanjutnya, penelitian yang menganalisa penggunaan berbagai macam teknologi biometric untuk meningkatkan kehadiran pegawai, dalam penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa teknologi fingerprint adalah yang terbaik diantara teknologi biometric yang lain (Muhtahir, Adeyinka, & Kayode, 2013). Penelitian tentang penggunaan teknologi fingerprint authentication dalam sistem presensi menunjukkan bahwa penggunaan teknologi fingerprint authentication dapat menghilangkan kecurangan dalam proses presensi (Abilimi, Opoku-Mensah, & Yeboah, 2013). Penelitian lain juga menyatakan bahwa penggunaan teknologi biometric sidik jari dapat membantu manajemen presensi menjadi lebih baik dan akurat (Rao & Satoa, 2013). Penggunaan teknik otentikasi yang lebih modern juga tidak menutup kemungkinan terjadi masalah dalam pelaksanaanya mulai dari penggunaan teknik knowledge based (PIN atau password) dan token based (ID card, Passpor), kedua metode tersebut juga rentan dalam hal sekuritas misalnya saja PIN atau password yang bisa saja lupa atau dihack, ID card hilang, diduplikasi atau bahkan dicuri (Lourde & Khosla, 2010).

Diskusi

 

            Sistem presensi sudah ada sejak jaman sebelum masa penjajahan, sistem tersebut biasanya diiringi dengan berjalannya suatu kegiatan yang diikuti oleh beberapa orang ataupun kelompok. Mulai dari lingkungan wilayah yang kecil yaitu absensi murid – murid, pegawai sekolahan, dan para guru. Hingga lingkungan wilayah yang besar, salah satunya adalah Tentara Republik Indonesia ( TNI ) yang akan diberangkatkan ke medan perang. Mereka harus memastikan para prajurit yang akan dikirim sudah berkumpul semua.

secara umum presensi adalah untuk mengetahui kehadiran dan ketidak hadiran orang tersebut, perizinan untuk tidak menikuti kegiatan  atau meninggalkan kegiatan, serta menertibkan peserta didalam kegiatan tersebut agar selalu hadir tepat waktu dan memastikan apakah peserta mengikuti kegiatan secara efektif. Sehingga presensi memiliki peran yang sangat penting dalam ketertiban kegiatan ini. Dalam dunia pekerjaan, pastinya sebagai Pemilik perusahaan atau Bos ingin mengetahui keaktifan para pegawainya. Salah satu contohnya adalah dengan mengecek presensi di akhir hari sebelum kegiatan bekerja berakhir. Biasanya dengan aktifnya pegawai yang melakukan absensi yang tidak pernah lupa melakukan absensi, bos perusahaan pasti akan memberikan tambahan bonus kepada pegawainya sebagai tanda apresiasi karena telah bekerja dengan aktif. Namun terkadang ada pegawai yang bersikap tidak terpuji. Mereka meminta teman mereka untuk memalsukan absensi dengan cara menirukan tanda tangan pegawai yang tidak masuk alias bolos agar tetap mendapatkan bonus dari penuhnya daftar absensi.

Hal ini juga berlaku di kehidupan perkuliahan. Rata – rata perguruan tinggi di Indonesia masih melakukan absensi dengan cara manual yaitu dengan melakukan tanda tangan. Tanda tangannya pun dilakukan sembari kegiatan belajar mengajar diadakan sehingga jika dosen lengah atau tidak melakukan pengecekan ulang terhadap mahasiswa yang hadir, maka ada celah yang dapat dimanfaatkan para mahasiswa yang curang ini.

Saat ini telah berkembang teknologi fingerprint untuk berbagai hal keamanan. Keamanan menggunakan fingerprint cukup mustahil untuk dipalsukan. Awal mula sejarah fingerprint dikembangkan sebagai teknologi sehari-hari dimulai sekitar tahun 1890 saat seorang ilmuwan dari Inggris bernama Sir Francis Galton mengemukakan sebuah gagasan ilmiah dalam menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi seorang pelaku perbuatan kriminal. Awalnya pada sekitar tahun 1880, secara ilmiah Galton mempelajari sidik jari untuk menyelidiki kesamaan genetik dan pola keturunan. Pada penelitian tersebut, Galton menarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun sidik jari yang sama meski memiliki tipe yang sama, titik-titik pada sidik jari masing-masing orang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, Galton menyatakan bahwa sidik jari bisa digunakan untuk mengenali identitas seseorang. Perkembangan teknologi fingerprint terus berkembang, FBI juga mulai menggunakan sistem identifikasi sidik jari pada tahun 1924 khususnya bagi para pelaku kriminal. Hingga saat ini, FBI dan kepolisian negara lain termasuk Indonesia telah mengembangkan sistem identifikasi sidik jari yang canggih.

Teknologi fingerprint yang sudah dikenal di seluruh dunia bahwa setiap orang memiliki pola sidik jari yang berbeda – beda. Sehingga sangat mustahil jika sidik jari dipalsukan. Teknologi inilah yang dikembangkan menjadi mesin absensi yang memanfaatkan fingerprint teknologi. Pihak perguruan tinggi menganggap bahwa mesin absensi dengan teknologi fingerprint menjadi salah satu solusi paling mujarab. Cocok jika mesin tersebut ditempatkan di semua kelas dan di program untuk digunakan sebelum perkuliahan dimulai dan setelah perkuliahan berakhir. Dengan pemberlakuan fingerprint ini, dimungkinkan mahasiswa yang semula terbiasa titip absen (TA) akan mengalami kesulitan melakukan aksinya lagi. Hal ini disebabkan mahasiswa harus melakukan presensi sendiri. Berbeda jika presensi dilakukan dengan sistem tanda tangan yang berpotensi adanya tindakan kecurangan

 

Kesimpulan

         

            Banyak sekali faktor – faktor yang menyebabkan mahasiswa memilih untuk melakukan Titip Absen ( TA ). Layaknya anak sekolahan, yang hanya ingin bolos saja dengan mengambil jatah bolos, tidak tertarik dengan mata kuliah yang sedang berlangsung, dosen yang tidak masuk dan hanya memberi tugas saja, dan masih banyak lagi. Walaupun dengan berbagai macam alasan, seharusnya mahasiswa harusnya telah mengetahui kewajiban dan konsekuensi menjadi mahasiswa, seharusnya mahasiswa memiliki pola pikir yang lebih dewasa agar lebih bijak mem - filter melakukan hal – hal yang kurang baik bagi mahasiswa.

            Terlebih lagi, ada salah satu faktor mengapa mahasiswa sedikit malas mengikuti kegiatan perkuliahan, yaitu dosen yang mengajarkan materi perkuliahan dengan cara yang tidak menarik ataupun sulit dipahami bagi mahasiswa, sehingga mahasiswa malas untuk mengikuti kegiatan perkuliahan dan memilih belajar diluar jam perkuliahan tersebut. Hal itu mungkin dapat dikaji ulang oleh pihak insititut atau perguruan tinggi dalam memperbaiki kualitas belajar mengajar.

 

            Jadi, intinya adalah tidak selamanya mahasiswa yang melakukan Titip Absen buruk, namun mahasiswa harusnya sadar akan betapa pentingnya ilmu yang dipelajari diperkuliahan untuk bekal dalam dunia kerja nanti. Fingerprint hanya menjadi alat bantu membuat mahasiswa mengurangi kecurangan yang dilakukan. Tetapi tidak dapat 100% mengubah perilaku mahasiswa menjadi sama persis apa yang diinginkan oleh pihak institute atau universitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fakih, A., Raharjana, IK., & Zaman, B.(2015). Pemanfaatan Teknologi Fingerprint Authentication untuk Otomatisasi Presensi Perkuliahan. Journal of Information Systems Engineering and Business Intelligence, 1(2), 41-48

Fenomenus, Cerita Calon Guru ( 2013 ) . Penyebab Mahasiswa kecanduan TA. Dikutip dari : http://www.shaktinugroho.com/2013/06/5-hal-penyebab-mahasiswa-kecanduan-ta.html

Ferri ( 20 Februari 2019 ).  Sejarah Fingerprint Sebagai Teknologi Sehari – hari. Dikutip dari : https://www.biometrik.id/sejarah-fingerprint-sebagai-teknologi-sehari-hari.html

Lailatul, A,. Aditya, P., & Fakhrurrazi, M.(2012). Efektifkah Penerapan Presensi Fingerprint di Kampus?. http://www.balairungpress.com/2012/04/efektifkah-penerapan-presensi-fingerprint-di-kampus/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019

Hermawan.(2019). Pengertian Fingerprint Beserta Fungsi dan Cara Kerja Fingerprint. https://www.nesabamedia.com/pengertian-fingerprint/. Diakses Pada Tanggal 4 September 2019         

Artikel selengkapnya dapat dilihat disini


Post Views: 385


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved