1 year ago, Posted by: oknet02

Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia, Seburuk Apa ?

Kebakaran hutan dan lahan menjadi isu yang saat ini tengah diperbincangkan. Tragedi ini menjadi kejadian berulang di Kalimantan yang melumpuhkan aktivitas warga akibat asap yang ditimbulkan. Di tahun 2019 ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan Provinsi Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi dalam kondisi siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keenam provinsi tersebut merupakan sebaran dari 26 juta Ha lahan gambut di Indonesia.

Keputusan Presiden (kepres) Nomor 32 tahun 1999 tentang pengelolaan kawasan lindung menyatakan kawasan bergambut merupakan kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama. Kriterianya yaitu berupa tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terletak di bagian hulu sungai dan rawa.

Secara geologis gambut dapat terbentuk di daerah dengan iklim tropis, sedang, maupun dingin. Gambut terbentuk dari dari akumulasi sisa-sisa tanaman purba yang telah mati dan mengalami perombakan kompleks sesrta mengandung 12% – 18% karbon organik. Menurut World Wide Fund for Nature (WWF) dalam kondisi alami lahan gambut tidak mudah terbakar dikarenakan sifat gambut yang menyerupai spons yang dapat menyerap air secara maksimal. Namun, saat musim kemarau, gambut akan mengering sehingga resiko kebakaran meningkat.

Kebakaran lahan gambut sulit dideteksi karena kobaran api dari lahan gambut  secara lambat menjalar dibawah permukaan tanah. Kebakaran ini menimbulkan asap yang tebal serta sangat sulit untuk dipadamkan sehingga frekuensi kebakaran terjadi lebih lama.

Terdapat setidaknya 4.258 titik panas di Indonesia dengan 2.087 diantaranya terletak di kawasan konsesi dan kesatuan hidrologi gambut (KHG) sepanjang bulan Januari hingga bulan Juli 2019. Kondisi tersebut tentu sangat menghawatirkan.

BNPB mencatat, sebaran asap yang makin meluas menyebabkan kualitas udara di kota Pekanbaru dan Palangkaraya Provinsi Riau menurun. Di Kota Pekanbaru, kualitas udara menurun pada tingkat kurang sehat (konsentrasi PM 10 173). Sementara itu, di Kota Palangkaraya kualitas udara menurun pada tingkat sedang (konsentrasi PM 10 126).

Karhutla memiliki dampak yang sangat merugikan penduduk setempat. Akibat asap tebal dan udara yang tercemar, sebagian besar masyarakat mengalamai infeksi saluran pernapasan (ISPA), asma, dan penyakit paru obstruktif kronik. Selain menurunnya kualitas udara di sejumlah daerah yang berdampak kabut asap, karhutla menyebabkan rusaknya flora dan fauna yang hidup di hutan. Sebaran asap dan emisi gas karbondioksida dan gas -gas lainnya berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Dampak dari karhutla ini juga menyebabkan Indonesia mengekspor asap tebal hingga ke negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura. Tentu hal ini mempengaruhi hubungan diplomatik antar negara tetangga. Sehingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meratifikasi persetujuan terkait kabut asap lintas batas.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden No.1 Tahun 2016 menyatakan pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk mempercepat pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi hidrologis lahan gambut. BRG sejauh ini terus menjalankan operasi pembasahan lahan gambut dengan harapan risiko karhutla dapat ditekan. Selain itu, masyarakat juga mulai menggalang dana dalam rangka membantu penduduk setempat yang membutuhkan bantuan masker N95 untuk mengurangi resiko terkena penyakit pernapasan.

 

Sumber :

http://fst.unair.ac.id/indonesia-darurat-karhutla-benarkah/


Post Views: 352


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved