1 year ago, Posted by: oknet02

Kontroversi Teknologi Nano

Teknologi nano sering diidentikkan dengan partikel yang berukuran sangat kecil. Nah, memang benar teknologi nano adalah teknologi yang memanipulasi materi pada skala atomik atau molekuler yang ukurannya sungguh sangat kecil, berukuran nanometer atau sepersemilyar meter. Dengan teknologi nano, saat ini dapat dibuat berbagai material yang sama sekali baru. Misalnya perekat yang bisa menempel layaknya kaki tokek. Atau sebaliknya, lapisan yang bersifat seperti daun keladi, yang bahkan dapat mencegah menempelnya madu. Juga lensa kacamata yang tidak bisa kotor atau bisa menepis menempelnya uap air. Sementara di bidang kedokteran, teknologi nano menjanjikan sejumlah kemungkinan cara pengobatan yang baru seperti membran serat nano untuk serat jaringan kulit. Disamping berbagai manfaat yang diberikan, para ahli kini juga mempertanyakan efek samping berbahaya dari teknologi nano.

Teknologi nano terapan yang kini banyak digunakan berupa lapisan yang terikat erat pada permukaan materialnya. Teknik semacam ini tidak terlalu menghawatirkan bagi para pengawas dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja. Berbeda halnya jika partikel nano itu berbentuk debu atau terlarut dalam cairan. Pakar material berbahaya dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja, Rolf Packroff menjelaskan jika timnya sering bekerja dengan material yang mengembangkan banyak debu. Debu tersebut dikhawatirkan dapat masuk ke paru-paru, selain itu mereka juga bekerja dengan material berbentuk serat, yang harus juga diperhatikan secara khusus, karena mirip seperti serat asbes.

Dalam hal ini perhatian khusus diarahkan pada partikel nano berbentuk pipa dari unsur karbon yang disebut pipa nano-karbon. Partikel ini dapat diolah menjadi serat yang di bawah mikroskop terlihat amat mirip dengan serat asbes. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut terkait apakah serta nano ini sama berbahayanya dengan serat asbes.

“Tidak semua serat memicu kanker. Akan tetapi kita harus mengamati unsur berbentuk serat, dan biasanya hanya ujicoba yang dapat membantu menegaskan, apakah seratnya dapat memicu kanker. Pada pipa-nano karbon terdapat perbedaan amat mencolok“, ujar Packroff lebih lanjut.

Debu amat halus dapat membahayakan kesehatan manusia karena dapat masuk hingga ke saluran pernafasan terbawah bahkan sampai ke gelembung paru-paru. Pakar toksikologi dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja, Thomas Gebel menjelaskan, partikel debu yang berukuran relatif besar, biasanya dapat disaring dan disingkirkan oleh bulu-bulu halus di saluran pernafasan bagian atas. Akan tetapi bagian saluran pernafasan bawah tidak memiliki bulu halus semacam itu.

“Di bagian itu hanya ada sel pemangsa yang menyingkirkan debunya. Dan hal itu berlangsung relatif lamban dan buruk, hingga debu yang tidak bisa disingkirkan akan berada di sana seumur hidup dan dapat memnimbulkan berbagai macam masalah,“ tutur Gebel. Misalnya saja partikel debunya dapat memicu peradangan di bagian tersebut, bahkan dapat membentuk tumor.

Presipitator thermal digunakan para ilmuwan untuk mengetahui ada atau tidaknya debu berbahaya di lingkungan kerja mereka. Alat tersebut menyedot udara dan kemudian udara tersebut dilewatkan pada dua lempengan material yang berbeda suhunya. Rolf Packroff menjelaskan lebih lanjut, "Akibat perbedaan suhu, partikel debu amat halus terhimpun pada sebuah lempengan silikon. Selanjutnya saya dapat menelitinya di bawah mikroskop elektron."

Pakar material berbahaya Rolf Packroff kemudian meneliti lebih jauh debu tsb, untuk memastikan sifat atau ancaman bahayanya. “Bagaimana kenampakan partikelnya? Apakah ini bagian dari debu? Apakah sulit terurai? Jika terdapat serat di dalamnya, kami harus menilainya secara khusus dan bagaimana komposisi kimianya secara keseluruhan. Sebab kami tentu juga mengetahui, bahwa bahan kimia tertentu, misalnya logam berat dapat diduga menimbulkan ancaman bahaya, dan lewat sifat nano bahayanya tidak berubah,“ jelas pakar material berbahaya itu.

Akan tetapi disebutkan terdapat perbedaan mendasar. Partikel nano memiliki permukaan yang lebih besar dibanding partikel lainnya. Dengan itu terbuka peluang bahwa tubuh dapat lebih cepat menyerap partikel tersebut. Selain itu, para ilmuwan juga mengakui belum banyak mengetahui dampak negatifnya secara akurat terhadap tubuh manusia. Mereka menyarankan agar lebih berhati-hati dalam penanganan material semacam itu.

Miriam Baron dari kelompok pakar manajemen unsur berbahaya, memberikan solusi bagaimana cara preventif untuk mencegah terhisapnya unsur berbahaya itu ke saluran pernafasan. “Kita berusaha mengikat debunya pada cairan atau pada bahan padat, granulat, krem atau juga campuran komponen. Terdapat tindakan teknis, misalnya dengan membuang udaranya, menerapkan sebuah sistem sirkulasi tertutup atau menyedotnya. Tindakan perlindungan pekerja misalnya dengan mengenakan masker pelindung saluran pernafasan, kacamata pelindung, sarung tangan dan juga baju pelindung,“ kata Baron menegaskan.

Para pakar dari lembaga federal Jerman untuk perlindungan kerja dan kedokteran kerja, secara umum memperketat aturan kerja berkaitan dengan material yang belum diteliti secara mendalam ancaman bahayanya, misalnya unsur yang mengandung partikel nano. Dengan berbagai tindakan perlindungan, diharapkan unsur-unsur yang mungkin mengandung partikel berbahaya itu tidak terhisap atau masuk ke dalam tubuh dan di kemudian hari menimbulkan masalah kesehatan yang merugikan manusia.

Sumber :

https://www.dw.com/id/keunggulan-dan-bahaya-teknologi-nano/a-15272273

 

 


Post Views: 351


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved