1 year ago, Posted by: oknet02

Perkembangan Energi Nuklir di Indonesia

Energi nuklir adalah sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan dibandingkan energi fosil. Namun, energi nuklir masih mendapatkan banyak sentimen negatif karena kasus kecelakaan reaktor nuklir seperti di Chernobyl serta bahan yang bersifat radioaktif yang ditakutkan dapat mempengaruhi kesehatan para pekerja atau warga yang ada di sekitar reaktor tersebut. Hal tersebut menyebabkan belum terwujudnya pemanfaatan energi nuklir di Indonesia dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Lantas, bagaimana sebenarnya perkembangan energi nuklir yang ada di Indonesia ?

Nuklir di Indonesia memiliki kisah yang cukup panjang. Pada era Presiden Soekarno, beliau membentuk Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivet. Lembaga ini memiliki tugas untuk menyelidiki kemungkinan jatuhan radioaktif dari berbagai uji coba senjata nuklir di Pasifik. Empat tahun kemudian dibentuklah Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom yang menjadi cikal bakal terbentuknya Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Reaktor pertama di Indonesia diresmikan pada tahun 1965 di Bandung, rekator ini diberi nama Triga Mark II. Selanjutnya, dibangun pula fasilitas penelitian, pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) yang tersebar di berbagai pusat penelitian, antara lain Pusat Penelitian Tenaga Atom Pasar Jumat, Jakarta (1966), Pusat Penelitian Tenaga Atom GAMA, Yogyakarta (1967), dan Reaktor Serba Guna 30 MW (1987) disertai fasilitas penunjangnya, seperti: fabrikasi dan penelitian bahan bakar, uji keselamatan reaktor, pengelolaan limbah radioaktif, dan fasilitas-fasilitas nuklir lainnya.

Pada era pemerintahan Suharto, awal tahun 1970-an perencanaan secara serius pembangunan PLTN telah dilakukan dengan pembentukan Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN). Tugas komisi ini adalah melakukan kajian tentang hal-hal yang terkait dengan kemungkinan pembangunan PLTN di Indonesia. Hasil kerja komisi diantaranya adalah menetapkan sekitar 14 lokasi yang diusulkan kepada pemerintah untuk dilakukan studi lebih lanjut sebagai calon tapak PLTN. Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan studi kelayakan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (sekarang menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional) bekerja sama dengan pemerintah Italia, Amerika, Perancis dan International Atomic Agency (IAEA), yang dilakukan hingga tahun 1986.

Sejauh ini Indonesia memiliki sejumlah daerah yang dianggap berpotensi untuk membangun PLTN. Menurut Djarot, setidaknya ada tiga daerah, yakni semenanjung muria Jepara, Pulau Bangka, dan Kalimantan. “Jepara dan Pulau Bangka sudah kami lakukan feasibility study (FS), sedangkan Kalimantan (Kalbar dan Kaltim) masih pra-FS. Menurut jajak pendapat yang kami lakukan pada 2016, sebanyak 77,53% mendukung pembangunan PLTN.

Pembangunan PLTN memang memerlukan perencanaan yang panjag karena nuklir adalah komoditi yang kontroversial, selain itu pertimbangan terkait pengelolaan limbah nuklir di Indonesia juga memerlukan proses yang panjang, karena limbah energi fosil sendiri masih belum dikelola dengan baik, apalagi limbah nuklir yang memiliki zat-zat radioaktif tentu perlu penanganan yang khusus. Dibalik kontroversinya, Djarot mengatakan bahwa nuklir bermanfaat dalam berbagai bidang. “Nuklir bisa untuk pertanian. BATAN sudah menghasilkan 23 varietas padi, kedelai. Lalu untuk kesehatan bisa dimanfaatkan dalam diagnosis dan terapi, misalnya kanker, dan itu yang sampai sekarang banyak dimanfaatkan.”

Sumber :

https://www.asumsi.co/post/kisah-pengembangan-nuklir-di-indonesia

http://www.batan.go.id/index.php/id/infonuklir/nuklir-indonesia-infonuklir/program-pltn/1810-rencana-pembangunan-pltn-di-indonesia


Post Views: 529


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved