1 year ago, Posted by: oknet02

Mengapa Minyak Sawit Dikecam ?

Minyak sawit mungkin sering dianggap hanya sebagai bahan baku minyak goreng. Faktanya, minyak sawit memiliki banyak produk turunan antara lain margarin, sabun mandi, mi instan, kosmetika, obat-obatan, hingga makanan ringan, bahan bakar nonfosil, selai, cokelat, sampo, detergen, dan masih banyak lagi, semuanya mengandung minyak sawit. Minyak sawit sangat mengakar dalam kehidupan sehari-hari dan meluas penggunaannya ke banyak negara di dunia.

Namun, semenjak viralnya berita kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, industri sawit mendapat banyak kecaman dan sentimen negatif dari berbagai pihak, khususnya lembaga-lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup seperti Greenpeace. Greenpeace bahkan pernah melakukan aksi damai menaiki kapal kargo Wilmar (perusahaan minyak sawit terbesar di dunia) yang saat itu bermuatan minyak sawit yang akan dibawa ke Eropa.

Mengapa industri sawit mendapat banyak kecaman ?

Konsumsi produk-produk turunan minyak sawit yang semakin tinggi menyebabkan permintaan terhadap minyak sawit pun juga meningkat. Sawit merupakan komoditas yang memiliki karakteristik monokultur dimana hanya ada satu jenis tanaman pada satu area. Hal ini menyebabkan kehancuran hutan dengan keragaman biodiversity di dalamnya dengan segala fungsinya baik secara ekologis, sosial budaya dan ekonomi. Hutan hujan tropis dan lahan gambut di Indonesia, serta negara-negara lain, tengah dirambah dan digantikan dengan perkebunan kelapa sawit yang terus-terusan diperluas. Area seluas lapangan sepak bola di hutan hujan Indonesia dihancurkan setiap 25 detik untuk diganti dengan perkebunan sawit. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit juga sering dilakukan dengan cara membakar lahan gambut sehingga tak jarang menimbulkan kebakaran hutan, salah satunya kebakaran hutan yang saat ini terjadi di Kalimantan juga diperkirakan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Kebakaran hutan ini kita taha memiliki dampak yang buruk bagi ekosistem, lingkungan, manusia, serta satwa liar yang hidup di hutan. Banyak dijumpai satwa yang kehilangan tempat tinggalnya, bahkan tidak sedikit yang mati terpanggang api kebakaran hutan. Masyarakat di area kebakaran hutan pun banyak yang terkena penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) , bahkan dikabarkan ada bayi yang meninggal akibat asap kebakaran hutan ini. 

Para aktivis lingkungan mendorong perusahaan-perusahaan industri sawit kotor untuk beralih ke cara-cara pengolahan lahan sawit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu, ada banyak alternatif-alternatif pengganti sawit yang diklaim lebih ramah lingkungan seperti minyak nabati dari kedelai, minyak dari ganggang, minyak dari ulat Jerman, minyak kelapa, minyak jojoba, juga minyak dari ragi. Namun, tentu permasalahannya minyak alternatif tersebut jika di produksi secara massal pun juga berpotensi untuk merusak lingkungan layaknya permasalahan yang dihadapi saat ini. Maka, masyarakat juga harus mulai hidup berkesadaran dengan mengkonsumsi apapun secukupnya saja dan tidak secara berlebihan, khusunya terkait konsumsi minyak sawit.

Sumber :

https://www.greenpeace.org/indonesia/cerita/1653/minyak-sawit-apa-yang-perlu-kita-ketahui/

https://tirto.id/dua-mata-pisau-peringatan-hari-sawit-devisa-dan-kerusakan-hutan-cAdp

https://tirto.id/kontroversi-dolar-dari-sawit-alternatifnya-tak-dilirik-cZnf

https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/1068/enam-aktivis-greenpeace-ditangkap-saat-beraksi-menduduki-kapal-bermuatan-minyak-sawit-kotor-wilmar-menuju-eropa/


Post Views: 323


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved