1 year ago, Posted by: oknet02

Kertas VS Media Digital, Pilih Mana ?

Indonesia merupakan negara dengan penggunaan kertas yang cukup tinggi. Menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin), Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp (bubur kertas) terbesar di dunia dan ke-6 untuk produsen kertas di dunia. Sedangkan, menurut Forest Watch Indonesia (FWI) mengatakan bahwa pada periode tahun 2009 hingga 2013, hutan di Indonesia hilang seluas 1,13 juta hektar setiap tahunnya, setara dengan tiga kali luas lapangan sepak bola per menit.

Kayu-kayu dari pohon-pohon di hutan merupakan bahan baku utama dari kertas. Tingginya angka produksi kertas juga dikhawatirkan menyebabkan tingginya juga penebangan pohon di hutan yang akhirnya membuat cemas para pemerhati lingkungan. Gerakan untuk menghemat kertas pun banyak digaungkan untuk mengurangi angka produksi kertas, sehingga bisa mencegah tingginya angka deforestasi hutan. Namun, kertas memiliki peran sangat penting bagi masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan seni sastra dimana kertas merupakan media untuk mencatat pengetahuan-pengetahuan penting, menulis puisi, menulis cerita, buku pelajaran, majalah, juga koran. Nah, salah satu alternatif pengganti kertas adalah media digital, seperti e-book, e-magazine, e-newspaper, notepad untuk menulis catatan, dan banyak bentuk lainnya. Lantas, apakah benar pengggunaan media digital lebih baik daripada kertas ?

Sisi Efektivitas

Dari segi efektivitas, penggunaan kertas dan media digital sebenarnya tergantung dari preferensi tiap orang. Generasi yang lebih tua mungkin lebih suka membuat catatan menggunakan bolpoin dan kertas dan generasi muda lebih suka menggunakan fitur note di gawai mereka untuk membuat catatan.

Media digital sebenarnya bisa dianggap lebih efektif karena kita bisa langsung menghapus atau mengoreksi jika ada kata yang salah, sedangkan jika menggunakan kertas kita harus mencoret atau menggunakan tip-ex untuk menghapus kata yang salah. Selain itu, gawai seperti tablet, e-book reader, atau ponsel pintar lebih ringan, ringkas, dan mudah dibawa serta bisa berisi banyak buku, jurnal, paper, artikel, maupun cacatan. Sedangkan, jika menggunakan media kertas tentu akan lebih berat dan ribet jika harus membawa banyak buku, jurnal, paper, artikel, buku catatan.

Namun, adakalanya kertas dianggap lebih efektif. Ada pelajar yang merasa bahwa ia lebih gampang menghafal jika ia menulis di kertas dibandingkan jika mengetik di ponselnya. Selain itu, konsultasi dengan dosen dirasa lebih efektif jika memakai hardcopy. Dosen lebih mudah dalam menandai bagian mana saja yang perlu direvisi. Coretan-coretan dosen pada kertas dirasa lebih eye catching dan tegas. Mahasiswa juga bisa langsung melihat bagian-bagian mana yang diberi tanda oleh dosen secara langsung. Sedangkan, apabila berkonsultasi menggunakan laptop maka setidaknya ada dua gawai yang digunakan. Yaitu oleh dosen dan oleh mahasiswa. Sehingga, mahasiswa harus pandai-pandai mengikuti sudah sampai mana dosen membahas tugas yang dia kerjakan agar tidak tertinggal.

Sisi Kesehatan

Penggunaan gawai jika terlalu lama dianggap kurang sehat karena ketika terlalu lama menggunakan gawai seperti laptop dan ponsel pintar adalah dikhawatirkan bisa terkena radiasi, kesehatan mata terganggu dan otot menjadi kaku. Bahkan beberapa artikel mengatakan bahwa radiasi elektromagnetik dapat mengakibatkan kanker seperti leukemia. Penggunaan kertas dianggap memiliki resiko kesehatan yang lebih rendah daripada media digital karena tidak menimbulkan radiasi. Namun, membaca melalui media cetak seperti novel, koran dan lain sebagainya tidak menjamin akan terbebas dari gangguan kesehatan. Posisi membaca yang tidak tepat, pencahayaan yang kurang dan intensitas membaca juga dapat mempengaruhi kesehatan mata seperti rabun jauh.

Sisi Lingkungan

Penggunaan kertas yang berbahan dasar pulp dari kayu tentu memiliki dampak pada lingkungan, walaupun banyak pabrik kertas mengklaim bahwa bahan baku kayu untuk produksi kertas mereka bersumber dari hutan lestari yang berkelanjutan dan ramah lingkungan namun tentu akan lebih baik jika kita menghemat penggunaan kertas. Kertas sebenarnya juga dapat di daur ulang, namun biasanya kertas daur ulang memiliki kualitas yang kurang baik karena pulpnya yang tidak bisa sehalus pulp kayu. Penggunaan media digital dirasa bisa mengurangi penggunaan kertas sehingga lebih ramah lingkungan. Jika ada file yang salah hanya perlu diedit atau dihapus di bagian yang salah saja tanpa harus mengeluarkan limbah. Utamanya bagi para penganut gaya hidup minimalis. Kehadiran teknologi tentu sangat membantu dalam mengurangi kepemilikan benda. Bayangkan ratusan bahkan ribuan judul buku dapat disimpan dalam bentuk e-book di satu gawai saja tanpa harus repot-repot menyiapkan rak buku untuk menyimpan buku-buku tersebut.

Sumber :

http://fst.unair.ac.id/industri-kertas-dan-deforestasi-hutan-haruskah-beralih-pada-dunia-digital/


Post Views: 446


Leave a comment

Comments

Nindhita Yusvantika

Artikel yang menarik dan bermanfaat. Salah satu mahasiswa dari Universitas Airlangga, Indonesia menuliskan opini tentang apakah maraknya deforestasi harus beralih ke dunia digital. Untuk artikel lebih jelasnya akan saya bagikan link artikel di bawah ini. Selamat membaca,semoga bermanfaat http://news.unair.ac.id/2019/07/03/industri-kertas-dan-deforestasi-hutan-haruskah-beralih-pada-dunia-digital/ Sekian dan Terima Kasih

1 year ago
Reply

Copyrights © 2017 All rights reserved