1 year ago, Posted by: oknet02

Teknologi-Teknologi yang Terinspirasi dari Alam

Manusia saat ini berada di era dimana teknologi sangat berkembang pesat. Banyak temuan-temuan teknologi terbaru yang sangat memudahkan kegiatan manusia. Namun tahukah kalian bahwa sebagian dari teknologi-teknologi tersebut bukanlah ide original ? Ya, banyak teknologi yang kita gunakan saat ini terinspirasi dari alam disekitar kita, baik dari tumbuhan maupun hewan. Melalui ilmu biomimikri atau ilmu meniru alam , ilmuwan dapat mengembangkan inovasi dan teknologi yang unik. Yuk, mari kita simak apa saja teknologi-teknologi tersebut.

1. Velcro

Velcro adalah perekat yang banyak sekali dipakai, mulai dari tas, sepatu anak-anak, hingga pakaian astronot. Bahan perekat ini sebenarnya terinspirasi oleh bagaimana duri pada tanaman menempel pada rambut anjing atau pada kain. Insinyur Swiss George de Mestral mengamati duri tanaman yang menempel sangat lekat pada bulu anjing dan celananya setelah perjalanan berburu di Alpen pada tahun 1941. Dia menemukan bahwa kait kecil memungkinkan duri untuk menempel pada benda-benda dan berpikir bahwa hal tersebut dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Setelah bertahun-tahun bereksperimen, ia menemukan Velcro, resleting tapi tanpa resleting. Dia mendapatkan paten untuk penemuan ini pada bulan September 1955. Velcro sekarang dikenal sebagai merek perekat kain dan pengikat simpul.

2. Medical Tape (Perekat Medis)

Sutra laba-laba dikenal sebagai salah satu bahan terkuat di alam bahkan lima kali lebih kuat dari baja. Sutra ini juga melar dan lengket - tetapi tidak lengket di satu sisi sehingga laba-laba dapat berlari melewatinya. Para ilmuwan telah mencoba untuk meniru sifat dari sutra laba-laba ini. Mereka memiliki gagasan bahwa sifat dari sutra laba-laba  dapat diterapkan pada perekat medis. Merobek plester luka dan sebagian besar pita perekat medis bisa menyebabkan sedikit rasa sakit pada kulit manusia dewasa, tetapi bisa menyakitkan dan merusak kulit sensitif bayi baru lahir dan orang tua. Mereka menciptakan pita perekat yang terinspirasi dari sutra yang fleksibel dan dapat dikelupas tanpa merusak jaringan kulit di bawahnya. Para ilmuwan menerapkan film berbasis silikon ke bahan pendukung dan kemudian menggunakan laser untuk mengukir pola kotak pada silikon. Pita ini berguna untuk menempelkan selang infus atau sensor pada kulit sensitif pasien.

3. Bullet Train (Kereta Peluru)

Kereta peluru dinamai seperti itu karena dirancang untuk meniru peluru. Kereta berkecepatan tinggi ini berhasil, tetapi mereka memiliki satu masalah yang masih ada. Saat kereta melaju, tekanan udara menumpuk dalam gelombang, menyebabkan suara guntur seperti senapan ketika kereta datang. Penumpang mengalami sakit kepala dan perasaan bahwa kereta terjepit setiap kali keluar dari terowongan. Eiji Nakatsu, seorang insinyur di perusahaan kereta api Jepang JR-West, juga merupakan seorang pengamat burung yang rajin. Dia mengamati bahwa burung kingfisher, burung penyelam pemakan ikan, memiliki paruh panjang yang memotong udara dan nyaris tidak membuat riak ketika mereka menembus air. Dia memutuskan untuk menerapkan struktur paruh burung tersebut ke bagian depan kereta. Hasilnya tidak hanya membantu kereta untuk berhenti membuat suara seperti guntur saat keluar dari terowongan, tetapi juga memungkinkan kereta berjalan lebih cepat dan juga terjadi peningkatan efisiensi energi. Kereta peluru Shinkansen di Jepang memiliki kecepatan operasi maksimum 320 km / jam dan hanya menghasilkan sekitar 16% karbon dioksida dari perjalanan setara dengan mobil.

4. Lapisan Anti-Fouling pada Kapal Laut

Hiu, tidak seperti makhluk laut lainnya, tetap bersih hingga lebih dari 100 juta tahun. Di tubuh Hiu tidak ditemukan lendir, teritip atau ganggang. Hal ini membuat penasaran seorang insinyur bernama Tony Brennan, yang mencoba membuat lapisan yang lebih baik untuk kapal-kapal Angkatan Laut AS ketika dia mengamatinya pada tahun 2003. Teritip dan organisme laut lainnya menciptakan bobot ekstra dan menyebabkan hambatan pada kapal, mengurangi efisiensi bahan bakar dan menyebabkan Angkatan Laut menghabiskan setidaknya $ 50 juta per tahun untuk membersihkannya dari lambung kapal. Dia menemukan bahwa sisik hiu yang kecil dan mirip gigi mencegah organisme menempel (atau biofouling). Pengamatan Brennan mengarah pada pengembangan Sharklet, bahan kulit hiu sintetis yang memiliki atribut anti-biofouling yang sama, dan diproduksi oleh Sharklet Technologies. Inovasi ini memberikan hasil positif dalam menghambat pertumbuhan organisme laut di permukaan kapal. Peneliti Jerman juga mengembangkan bahan yang sama yang terbuat dari silikon elastis, dan telah terbukti mengurangi biofouling hingga 67%.

5. LED Light yang Lebih Terang

Kita mungkin akrab dengan fakta bahwa dioda pemancar cahaya (LED) lebih hemat energi daripada lampu pijar dan lampu neon. Tetapi sebagian besar cahaya yang dihasilkan lampu LED terjebak di permukaan bagian dalamnya. Para ilmuwan menemukan inspirasi dari kunang-kunang yang berkelap-kelip untuk memodifikasi lapisan luar bola lampu LED. Mereka mempelajari struktur internal lentera kunang-kunang dan mengidentifikasi pola tak terduga dari sisik bergerigi, yang mencegah refleksi dan meningkatkan sinar cahaya kunang-kunang. Para peneliti kemudian menerapkan hal tersebut untuk membangun desain LED yang lebih terang. Hasil inovasi tersbut membuat bola lampu memancarkan satu setengah kali cahaya yang lebih terang dari cahaya normalnya.

Nah, itu dia beberapa contoh teknologi yang tersinspirasi dari tanaman dan hewan. Tidak menutup kemungkinan di masa depan akan ada penemuan baru di bidang sains dan teknologi yang dikembangkan dari meniru apa yang ada di alam.

 

Sumber :

https://didyouknowscience.com/amazing-inventions-inspired-by-animals-and-plants/

 


Post Views: 1563


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved