1 year ago, Posted by: oknet02

Apa Itu Biopiracy ?

Seiring penelitian genetik menjadi lebih canggih, kemampuan manusia untuk memanfaatkan tanaman dan hewan dalam mengembangkan obat baru atau memodifikasi tanaman untuk memenuhi kebutuhan ketahanan pangan juga terus meningkat. Seringkali, dalam mencari sumber daya hayati baru, para peneliti memanfaatkan pengetahuan tradisional masyarakat lokal tentang sifat-sifat tanaman, hewan, atau senyawa kimia tertentu. Ketika peneliti menggunakan pengetahuan tradisional tanpa izin, atau mengeksploitasi budaya tempat mereka berasal - hal itu disebut biopiracy. 

Biopiracy merujuk pada penggunaan sumber daya genetik yang tidak sah dan / atau pengetahuan tradisional yang terkait sumber daya gentik tersebut. Biopiracy terjadi ketika peneliti atau organisasi penelitian mengambil sumber daya biologis tanpa izin resmi. Sumber daya biologis ini sebagian besar didapatkan dari negara-negara yang kurang makmur atau dari kaum marjinal. Biopiracy tidak terbatas pada pengembangan obat. Biopiracy juga terjadi dalam konteks pertanian dan industri. Produk India seperti pohon nimba, asam, kunyit, dan teh Darjeeling semuanya telah dipatenkan oleh perusahaan asing untuk tujuan menguntungkan perusahaan itu sendiri.

Dua Jenis Biopiracy

1. Biopiracy Ilegal

Biopiracy ilegal ditandai dengan praktik yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), dan / atau implementasinya dalam undang-undang nasional. CBD mempercayakan masing-masing negara untuk mengelola sumber daya genetiknya sendiri dan mengharuskan pembagian hasil yang adil dan merata yang timbul dari penggunaan sumber daya atau pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik. Untuk menjamin pembagian tersebut, siapa pun atau lembaga yang ingin mengakses sumber daya genetik harus mendapatkan Prior Informed Consent (PIC) dari pemilik. Selain itu, hasil apa pun yang timbul dari penggunaan sumber daya tersebut, atau pengetahuan tradisional yang terkait, harus dibagi secara adil dan merata antara pihak yang berkepentingan, yang dikenal sebagai Access and Benefit Sharing (ABS). Jika aturan ini dilanggar, maka kegiata tersebut adalah biopiracy.

2. Biopiracy dengan Akses Hukum

Hal ini berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. Banyak organisasi non-pemerintah pada kenyataannya menganggap biopiracy sebagai aplikasi untuk paten pada tanaman  atau untuk pengetahuan tradisional yang terkait  di mana hal ini tidak merepresentasikan inovasi atau aktivitas inventif. Dengan menggunakan paten semacam itu, industri mengambil karakteristik alami sumber daya genetik atau pengetahuan tradisional dari warga lokal. Dalam kasus-kasus semacam itu, pihak-pihak yang dirugikan harus membuktikan apakah benar perusahaan tersebut telah melakukan biopiracy, yang seringkali tidak dapat dilakukan karena kurangnya kemampuan finansial atau pengetahuan hukum untuk memulai prosedur pemeriksaan ulang paten.

Kata yang senada dengan biopiracy namun memiliki makna yang lebih 'positif' adalah bioprospecting. Kata ini lebih umum digunakan oleh kelompok peneliti yang berusaha mencari sumber daya hayati secara legal dan terhormat. Sayangnya, tidak banyak contoh positif dari bioprosppecting. Idealnya, bioprospecting melibatkan pertimbangan etis seperti persetujuan berdasarkan informasi sebelumnya, perjanjian akses dan pembagian manfaat, dan perjanjian transfer material sebelum penelitian dimulai. Penghasilan dari produk komersial apa pun yang diperoleh dari penelitian harus digunakan untuk upaya konservasi lokal dan pembangunan infrastruktur.

Meskipun biopiracy mungkin terjadi di suatu negara, dengan kelompok elit atau pejabat pemerintah mengambil sumber daya dari warga yang kurang berpengaruh, biopiracy lebih memiliki reputasi untuk terjadi antar negara. Biopiracy seringkali menonjolkan ketimpangan kekuasaan antara negara-negara maju dan negara-negara yang kurang makmur namun kaya sumber daya hayati.

Secara historis, biopiracy telah dikaitkan dengan kolonialisme, negara-negara yang sebelumnya dijajah memiliki banyak sumber daya yang dihilangkan secara paksa. Lada, gula, kopi, kina, atau karet memiliki dampak signifikan pada ekonomi dunia. Semua tanaman tersebut memiliki kaitan dengan masa kolonial. Inti masalahnya adalah gagasan kepemilikan. Paten dan merek dagang didukung oleh organisasi perdagangan internasional dan kelompok multinasional. Tetapi bagi banyak petani tradisional atau kelompok masyarakat adat, mematenkan organisme yang terus berkembang dan berubah sungguh tidak masuk akal, seperti halnya memberikan kepemilikan pada individu dan bukan pada kepemilikan bersama.

Paten sebenarnya pertama kali digunakan untuk melindungi penemuan dan merangsang inovasi. Banyak aktivis anti-biopiracy dan beberapa kalangan akademisi mendorong perubahan dalam sistem paten karena dianggap menghambat penelitian di banyak bidang penting. Biopiracy sendiri sampai sekarang masih menjadi masalah yang perlu diperhatikan dan perlu ditemukan solusi demi pemanfaatan sumber daya genetik yang lebih manusiawi tanpa merugikan pihak manapun.

 

Sumber :

http://theconversation.com/biopiracy-when-indigenous-knowledge-is-patented-for-profit-55589

https://www.publiceye.ch/en/topics/biopiracy/context-and-switzerlands-role/biopiracy


Post Views: 474


Leave a comment

Comments

Copyrights © 2017 All rights reserved