FTMM NEWS – Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar course yang mengangkat isu energi terbarukan pada Rabu (13/3/2024) secara hybrid di Gedung Nano, Kampus MERR-C dan melalui Zoom Meeting. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian agenda pelaksanaan Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) 2024.
Renewable energy atau energi terbarukan merupakan energi yang bersumber dari alam dan dapat terisi kembali secara alami dengan lebih cepat daripada yang dikonsumsi. Menariknya, penggunaan energi terbarukan telah menjadi kunci utama sebagai upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 7 (energi bersih dan terjangkau).
Penggunaan energi terbarukan dapat membantu dalam pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus memerangi perubahan iklim yang terjadi. Di samping itu, energi terbarukan dapat meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi keterikatan dalam penggunaan bahan bakar fosil.
Ragam Sumber Energi Terbarukan

Lilik Jamilatul Awalin S.T., M.T., PhD, dosen Prodi Teknik Elektro FTMM selaku pemateri dalam course tersebut menyampaikan bahwa terdapat beberapa beberapa jenis sumber energi yang tergolong ke dalam energi berkelanjutan atau sustainable energy. Di antaranya seperti energi angin, energi pasang surut (tidal energy), energi gelombang, energi panas bumi, hingga biofuels.
Untuk menangkap energi dalam jumlah banyak, turbin angin terpasang di menara dengan ketinggian 100 kaki atau lebih di atas tanah. Hal tersebut berguna dalam memanfaatkan angin yang lebih cepat dan tidak terlalu bergolak. Energi angin yang muncul tersebut dapat menghasilkan listrik untuk satu rumah atau bangunan. Namun juga dapat terhubung ke jaringan listrik untuk distribusi listrik yang lebih luas.
“Keuntungan dari penggunaan energi angin ialah termasuk ke dalam sumber daya yang bersih dan terbarukan, hemat biaya. Juga pesatnya pertumbuhan industri dapat menjadi potensi besar bagi energi angin. Selain itu, energi angin memiliki beberapa kekurangan seperti keandalan anginnya, ancaman terhadap satwa liar, hingga kebisingan dan polusi visual,” terang Lilik.
Kenalkan Biofuel

Lilik menutup course dengan pemaparan bahan bakar nabati (biofuel). Ia menjelaskan bahwa biodiesel terbuat dengan menggabungkan alkohol (biasanya metanol) dengan minyak sayur, lemak hewani, atau minyak goreng daur ulang. Biofuel dapat berguna sebagai aditif untuk mengurangi emisi kendaraan sekitar 20% atau dalam bentuk yang murni sebagai bahan bakar alternatif terbarukan bagi mesin diesel.
“Bahan bakar nabati memiliki beberapa keuntungan, di antaran dalam pemanfaatan biaya, sumber yang mudah, terbarukan, mengurangi emisi gas rumah kaca, hingga tingkat polusi yang rendah. Biofuel juga berperan dalam keamanan ekonomi. Jika lebih banyak orang mulai beralih ke bahan bakar nabati, negara dapat mengurangi ketergantungan pada penggunaan bahan bakar fosil. Lebih banyak pekerjaan akan tercipta dengan industri biofuel yang terus berkembang. Hal tersebut dapat berlanjut menjadi perekonomian yang aman,” ungkap dosen Prodi Teknik Elektro tersebut.
Penulis: Maissy Ar Maghfiroh
Editor: Muhammad Syahril Mubarok
source
https://unair.ac.id