Intrapartum: Proses Persalinan
Intrapartum merujuk pada tahap persalinan yang terjadi sejak kontraksi pertama hingga bayi dilahirkan. Proses ini merupakan tahap terakhir dari kehamilan, di mana berbagai fase terjadi untuk membantu kelahiran bayi. Intrapartum melibatkan beberapa tahap penting yang membantu ibu dan bayi melalui perjalanan menuju kelahiran.
Tahapan Intrapartum
- Fase Awal (Latent Phase)
Fase awal intrapartum dimulai ketika kontraksi pertama muncul dan berlangsung hingga pembukaan serviks mencapai sekitar 3-4 cm. Kontraksi pada fase ini umumnya ringan dan jarang, berlangsung sekitar 30 hingga 45 detik, dengan interval antar kontraksi yang lebih lama. Ibu mungkin masih bisa beraktivitas ringan seperti berjalan atau berbicara. - Fase Aktif
Pada fase aktif, pembukaan serviks akan meningkat lebih cepat, dari 4 hingga 7 cm. Kontraksi semakin kuat dan berlangsung lebih lama, biasanya selama 60 detik, dengan jarak antar kontraksi sekitar 3-5 menit. Ibu mulai merasakan ketidaknyamanan yang lebih intens dan membutuhkan dukungan yang lebih besar dari tenaga kesehatan atau pendamping. - Fase Transisi
Fase transisi merupakan fase yang paling intens selama intrapartum, berlangsung ketika pembukaan serviks mencapai 8 hingga 10 cm. Kontraksi lebih kuat, berlangsung sekitar 90 detik dengan interval antar kontraksi hanya sekitar 2-3 menit. Ibu mungkin merasa lelah, mual, dan ingin istirahat sejenak di tengah-tengah rasa sakit. - Fase II: Kala II (Fase Mengedan)
Fase kedua intrapartum dimulai ketika pembukaan serviks mencapai 10 cm, yang menandai dimulainya proses melahirkan bayi. Ibu akan mulai mengejan untuk membantu bayi keluar melalui jalan lahir. Fase ini dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam, tergantung pada banyak faktor, termasuk pengalaman melahirkan sebelumnya, posisi bayi, dan kemampuan fisik ibu. - Fase III: Kala III (Keluar Plasenta)
Setelah bayi lahir, fase ketiga dimulai dengan pelepasan plasenta. Biasanya, plasenta keluar dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Fase ini memastikan bahwa plasenta sepenuhnya dikeluarkan untuk menghindari komplikasi seperti perdarahan postpartum.
Faktor yang Mempengaruhi Intrapartum
Beberapa faktor yang memengaruhi perjalanan intrapartum meliputi:
- Posisi Bayi: Posisi bayi dalam rahim dapat mempengaruhi seberapa mudah proses persalinan berlangsung. Misalnya, posisi bayi kepala ke bawah (cephalic) umumnya mempermudah kelahiran dibandingkan posisi breech atau sungsang.
- Kesehatan Ibu: Kondisi kesehatan ibu, termasuk kondisi medis seperti diabetes, hipertensi, atau infeksi, dapat mempengaruhi perjalanan intrapartum.
- Kondisi Fisik dan Mental: Stres, kelelahan, dan dukungan emosional yang diterima ibu dapat memengaruhi ketahanan dan kenyamanan selama proses persalinan.
Komplikasi yang Dapat Terjadi Selama Intrapartum
Beberapa komplikasi yang mungkin muncul selama intrapartum antara lain:
- Kelahiran Prematur: Dimulai sebelum 37 minggu kehamilan.
- Prolaps tali pusat: Tali pusat keluar lebih dahulu dibandingkan bayi, yang bisa menyebabkan gangguan suplai oksigen.
- Persalinan Lama atau Dystosia: Ketika proses persalinan berlangsung lebih lama dari yang diharapkan, yang memerlukan intervensi medis seperti induksi atau operasi caesar.
Peran Tim Kesehatan
Selama intrapartum, tim kesehatan seperti bidan, dokter, dan perawat berperan penting dalam memberikan perawatan, memastikan keamanan ibu dan bayi, serta memberikan dukungan emosional yang diperlukan. Mereka mengawasi setiap tahapan proses dan merespon perubahan yang mungkin terjadi dengan cepat dan efektif.
Kesimpulan
Intrapartum adalah tahap penting dalam perjalanan persalinan yang memerlukan perhatian, dukungan, dan manajemen yang cermat dari tim medis maupun keluarga. Proses ini melibatkan berbagai tahapan, mulai dari pembukaan serviks hingga kelahiran bayi dan pelepasan plasenta. Dukungan yang optimal dan penanganan yang tepat sangat penting untuk memastikan hasil persalinan yang aman dan sehat bagi ibu dan bayi.
Baca Artikel Berikut : Intrapartum