Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
SAINS dan TEKNOLOGI

Menjelajah Dunia Ilmu & Teknologi

SAINS dan TEKNOLOGI

Menjelajah Dunia Ilmu & Teknologi

  • Home
  • Home
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Teknologi

Keamanan dalam Blockchain: Mengapa Teknologi Ini Sulit Diretas?

By admin Website
February 24, 2025 3 Min Read
Comments Off on Keamanan dalam Blockchain: Mengapa Teknologi Ini Sulit Diretas?

Blockchain telah menjadi salah satu teknologi paling revolusioner dalam dunia digital, terutama dalam sektor keuangan, keamanan data, dan sistem terdesentralisasi. Salah satu keunggulan utamanya adalah tingkat keamanannya yang sangat tinggi. Tetapi, apa yang membuat blockchain begitu sulit untuk diretas?

1. Struktur Desentralisasi: Tidak Ada Titik Serangan Tunggal

Berbeda dengan sistem tradisional yang menggunakan server terpusat, blockchain bersifat terdesentralisasi. Informasi dalam blockchain tidak disimpan di satu lokasi, melainkan disebarkan ke ribuan hingga jutaan komputer di seluruh dunia (node).

  • Jika seorang peretas ingin menyerang sistem berbasis blockchain, mereka harus mengendalikan mayoritas jaringan (minimal 51% dari total node).
  • Dengan banyaknya node yang terlibat, hampir mustahil bagi satu pihak untuk menguasai seluruh jaringan.

2. Kriptografi yang Kuat: Enkripsi Data yang Tidak Bisa Dimanipulasi

Setiap transaksi dalam blockchain diamankan dengan kriptografi tingkat tinggi menggunakan algoritma hashing, seperti SHA-256 (digunakan dalam Bitcoin).

  • Setiap blok dalam blockchain memiliki hash unik yang dihasilkan berdasarkan data dalam blok tersebut serta hash dari blok sebelumnya.
  • Jika ada satu bit data yang diubah, hash blok akan berubah drastis, membuat perubahan mudah terdeteksi oleh jaringan.
  • Ini membuat manipulasi data dalam blockchain hampir mustahil tanpa terdeteksi.

3. Mekanisme Konsensus: Validasi Kolektif untuk Mencegah Penipuan

Blockchain menggunakan mekanisme konsensus untuk memastikan setiap transaksi valid sebelum ditambahkan ke jaringan. Dua mekanisme yang paling umum digunakan adalah:

  • Proof of Work (PoW) – Seperti yang digunakan dalam Bitcoin, di mana penambang harus menyelesaikan perhitungan matematis kompleks untuk memvalidasi transaksi.
  • Proof of Stake (PoS) – Memilih validator berdasarkan jumlah token yang mereka pegang, sehingga transaksi tetap aman dengan konsumsi energi yang lebih rendah.

Kedua metode ini mencegah transaksi palsu dan memastikan bahwa hanya transaksi sah yang ditambahkan ke blockchain.

4. Immutability: Data yang Tidak Bisa Diubah

Blockchain bersifat immutable, artinya setelah transaksi dicatat, data tidak bisa dihapus atau dimodifikasi.

  • Jika seseorang mencoba mengubah data dalam satu blok, maka hash blok akan berubah, membuat seluruh jaringan langsung menyadari adanya gangguan.
  • Untuk meretas satu transaksi, peretas harus mengubah semua blok setelahnya di seluruh jaringan, yang secara komputasi sangat sulit dan mahal.

5. Smart Contract: Keamanan Otomatis dalam Transaksi Digital

Dalam blockchain seperti Ethereum, smart contract memungkinkan transaksi dan perjanjian digital berjalan secara otomatis tanpa perantara.

  • Smart contract hanya akan dieksekusi jika kondisi yang telah diprogram terpenuhi, menghilangkan risiko manipulasi pihak ketiga.
  • Namun, keamanan smart contract tetap bergantung pada kode yang ditulis. Jika ada celah dalam pemrogramannya, bisa dimanfaatkan oleh peretas (seperti yang terjadi dalam beberapa kasus peretasan DeFi).

Bisakah Blockchain Diretas?

Meskipun sangat aman, bukan berarti blockchain 100% tidak bisa diretas. Beberapa cara potensial yang bisa digunakan peretas meliputi:

  • Serangan 51% – Jika satu pihak berhasil mengendalikan mayoritas kekuatan komputasi jaringan, mereka bisa memanipulasi transaksi. Namun, ini sangat sulit dan mahal dilakukan di blockchain besar seperti Bitcoin atau Ethereum.
  • Eksploitasi Smart Contract – Bug dalam kode smart contract bisa dimanfaatkan untuk mencuri aset digital.
  • Serangan Phishing dan Social Engineering – Alih-alih menyerang blockchain itu sendiri, peretas sering menargetkan pengguna dengan mencuri kunci pribadi mereka melalui metode phishing.

Kesimpulan

Blockchain menawarkan keamanan yang luar biasa berkat desentralisasi, kriptografi kuat, mekanisme konsensus, dan sifat immutable-nya. Meskipun ada beberapa risiko, teknologi ini masih jauh lebih aman dibandingkan sistem tradisional yang terpusat. Oleh karena itu, blockchain menjadi pilihan utama untuk transaksi digital yang transparan, aman, dan tahan terhadap manipulasi.

Tags:

BlockchainDigitalteknologi
Author

admin Website

Follow Me
Other Articles
Previous

Mengenal Smart Contract: Kontrak Digital di Dunia Blockchain

Next

Proof of Work vs. Proof of Stake: Mana yang Lebih Baik?

Copyright 2026 — SAINS dan TEKNOLOGI. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme