Kenapa Gunung Everest Bertambah Tinggi Setiap Tahun?
Gunung Everest adalah gunung tertinggi di dunia. Namun, tahukah Anda bahwa Gunung Everest terus bertambah tinggi setiap tahun? Fenomena ini terjadi karena berbagai faktor geologi.
1. Pergerakan Lempeng Tektonik
Gunung Everest terbentuk akibat tabrakan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia. Kedua lempeng ini terus bergerak saling mendorong dengan kecepatan sekitar 5 cm per tahun. Tekanan dari tabrakan ini menyebabkan Everest naik sedikit demi sedikit setiap tahunnya.
2. Proses Geologi yang Berlangsung Lama
Kenaikan Everest bukanlah hal yang terjadi dalam semalam. Proses ini sudah berlangsung selama jutaan tahun. Setiap kali ada pergerakan di dalam bumi, sedikit demi sedikit Everest semakin tinggi.
3. Gempa Bumi Bisa Mempengaruhi Ketinggian
Gempa bumi di sekitar Himalaya juga bisa mengubah ketinggian Everest. Beberapa gempa bisa menyebabkan gunung ini bertambah tinggi, sementara gempa besar bisa membuatnya sedikit turun. Misalnya, gempa Nepal pada tahun 2015 sempat mengurangi ketinggian Everest sekitar 1 cm.
4. Pengukuran yang Semakin Akurat
Dulu, pengukuran ketinggian Everest tidak seakurat sekarang. Dengan teknologi GPS dan satelit, ilmuwan bisa mengukur perubahan ketinggian dengan lebih tepat. Dalam pengukuran terbaru pada tahun 2020, tinggi Everest tercatat sebagai 8.848,86 meter, sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
5. Apa Dampaknya?
Meskipun kenaikan ini sangat kecil setiap tahun, dalam jangka waktu ribuan tahun, perubahan bisa menjadi signifikan. Ini bisa mempengaruhi iklim, ekosistem, dan pendakian gunung. Selain itu, jika tabrakan lempeng terus berlanjut, Himalaya bisa semakin tinggi di masa depan.
Kesimpulan
Gunung Everest terus bertambah tinggi setiap tahun karena pergerakan lempeng tektonik yang mendorongnya ke atas. Faktor lain seperti gempa bumi dan pengukuran yang lebih akurat juga berpengaruh. Meskipun kenaikannya kecil, dalam jangka panjang perubahan ini bisa berdampak besar pada lingkungan dan dunia ilmu pengetahuan.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga