Kimia di Balik Proses Pengolahan Air Minum
Kimia di Balik Proses Pengolahan Air Minum
Air yang mengalir dari keran rumah kita telah melalui perjalanan panjang sebelum layak dikonsumsi. Proses pengolahan air minum melibatkan serangkaian tahapan kimia dan fisika yang dirancang untuk menghilangkan kontaminan berbahaya. Mari kita telusuri proses kimia yang membuat air aman untuk diminum.
Tahap Koagulasi dan Flokulasi
Proses pemurnian air dimulai dengan penambahan koagulan seperti aluminium sulfat (tawas) atau ferrik klorida. Bahan kimia ini bermuatan positif yang akan menetralkan partikel koloid bermuatan negatif dalam air. Setelah netralisasi, partikel-partikel kecil saling menarik dan membentuk flok (gumpalan) melalui proses flokulasi. Pengadukan lambat membantu pembentukan flok yang lebih besar dan stabil.
Proses Sedimentasi
Air kemudian dialirkan ke bak sedimentasi dimana flok-flok yang terbentuk akan mengendap secara gravitasi. Proses ini membutuhkan waktu 2-6 jam tergantung pada ukuran bak. Desain bak sedimentasi modern menggunakan sistem pelat miring untuk mempercepat pengendapan. Air jernih di bagian atas kemudian dialirkan ke tahap berikutnya.
Filtrasi Multi-Media
Tahap filtrasi menggunakan lapisan pasir silika, antrasit, dan kerikil dengan ketebalan berbeda. Media filter ini mampu menyaring partikel hingga ukuran 10 mikron. Karbon aktif sering ditambahkan untuk menyerap senyawa organik dan penghilangan bau. Backwash secara berkala diperlukan untuk membersihkan media filter.
Desinfeksi Akhir
Klorinasi tetap menjadi metode desinfeksi paling umum dengan dosis 0,2-0,5 mg/L. Alternatif lain seperti ozonasi dan UV mulai banyak digunakan. Kloramin (kombinasi klorin dan amonia) memberikan perlindungan residual yang lebih stabil dalam jaringan distribusi.
Proses pengolahan ini tidak hanya menghilangkan kekeruhan tetapi juga mengurangi kandungan logam berat, senyawa organik volatil, dan mikroorganisme patogen. Setiap tahap dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi pembersihan sekaligus meminimalkan pembentukan produk samping yang tidak diinginkan.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga