Kimia di Balik Reaksi Thermite
Reaksi thermite adalah reaksi kimia yang sangat panas dan cepat. Reaksi ini melibatkan logam yang mudah teroksidasi dan oksida logam lain. Hasil dari reaksi ini adalah panas tinggi dan logam cair.
Komposisi Reaksi Thermite
Thermite biasanya terdiri dari serbuk aluminium dan oksida besi. Aluminium bertindak sebagai pereduksi. Ia merebut oksigen dari oksida besi dan membentuk aluminium oksida. Besi murni kemudian terbentuk sebagai hasil reaksi.
Rumus reaksi umumnya adalah:
Fe₂O₃ + 2Al → 2Fe + Al₂O₃ + panas
Reaksi ini sangat eksotermis. Panas yang dihasilkan bisa melebihi 2500°C. Ini cukup untuk melelehkan baja.
Mengapa Aluminium?
Aluminium dipilih karena sangat reaktif. Ia mudah melepaskan elektron dan teroksidasi. Dalam reaksi thermite, aluminium menarik oksigen dari oksida besi. Hal ini menyebabkan terjadinya reaksi redoks. Aluminium teroksidasi, dan besi tereduksi.
Serbuk aluminium juga mudah terbakar. Ini membantu mempercepat awal reaksi ketika diberi pemicu, seperti pita magnesium yang menyala.
Proses Terjadinya Reaksi
Reaksi thermite tidak terjadi dengan sendirinya. Diperlukan sumber panas untuk memulai reaksi. Setelah menyala, reaksi berlangsung cepat dan kuat. Tidak bisa dihentikan sampai bahan habis.
Hasil dari reaksi ini adalah besi cair dan aluminium oksida padat. Karena sangat panas, logam hasil reaksi dapat digunakan langsung untuk pengelasan atau pemotongan logam lain.
Penggunaan dalam Dunia Nyata
Thermite sering digunakan untuk mengelas rel kereta api. Reaksi ini efektif dan tidak membutuhkan listrik. Selain itu, digunakan juga dalam militer untuk menghancurkan peralatan musuh agar tidak bisa digunakan lagi.
Thermite juga bisa digunakan dalam eksperimen pendidikan. Namun, penggunaannya harus diawasi. Bahannya sangat panas dan dapat menyebabkan luka serius.
Kesimpulan
Reaksi thermite adalah contoh reaksi kimia yang kuat dan bermanfaat. Dengan bahan sederhana, reaksi ini menghasilkan logam cair dan suhu ekstrem. Prinsip utamanya adalah reaksi redoks antara aluminium dan oksida logam.
Meski sederhana, reaksi ini tidak boleh digunakan sembarangan. Dibutuhkan pengetahuan dan perlindungan yang tepat untuk menghindari bahaya.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga