Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
SAINS dan TEKNOLOGI

Menjelajah Dunia Ilmu & Teknologi

SAINS dan TEKNOLOGI

Menjelajah Dunia Ilmu & Teknologi

  • Home
  • Home
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Environment

Reaksi Kimia dalam Pengomposan

By admin Website
May 19, 2025 2 Min Read
Comments Off on Reaksi Kimia dalam Pengomposan

Pengomposan adalah proses alami yang mengubah sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat. Dalam proses pengomposan, senyawa organik diubah menjadi humus melalui reaksi kimia yang melibatkan mikroorganisme. Proses kimia dalam pengomposan penting untuk menghasilkan kompos yang berkualitas dan ramah lingkungan.

Penguraian Awal oleh Mikroorganisme

Proses pengomposan dimulai ketika sampah organik, seperti sisa makanan dan daun, mulai terurai. Mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan actinomycetes bekerja untuk menguraikan bahan organik ini. Proses kimia pertama yang terjadi adalah pemecahan senyawa kompleks, seperti selulosa dan lignin, menjadi senyawa yang lebih sederhana.

Bakteri aerobik (yang memerlukan oksigen) mengurai sebagian besar bahan organik ini menjadi senyawa yang lebih mudah terurai. Proses ini menghasilkan gas seperti karbon dioksida, uap air, dan panas.

Pembentukan Asam Organik

Selama proses penguraian, bakteri dan mikroorganisme menghasilkan asam organik, seperti asam asetat dan asam laktat. Asam ini berfungsi untuk mempercepat dekomposisi bahan organik lainnya.

Asam organik yang terbentuk dapat mengubah struktur kimia bahan organik, membuatnya lebih mudah terurai oleh mikroorganisme lain. Pada tahap ini, suhu dalam tumpukan kompos akan meningkat karena proses eksotermik, yang dapat mencapai suhu 50-70°C.

Proses Pembusukan dan Pembentukan Ammonia

Selama penguraian lebih lanjut, senyawa nitrogen dalam sampah organik diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana. Salah satu produk dari penguraian ini adalah amonia (NH₃). Ammonia adalah senyawa nitrogen yang sangat penting dalam pembentukan kompos.

Namun, jika kadar ammonia terlalu tinggi, proses pengomposan dapat terhambat. Oleh karena itu, penting untuk mengatur rasio karbon dan nitrogen dalam tumpukan kompos agar proses ini berjalan dengan baik.

Pembentukan Humus

Setelah beberapa minggu, mikroorganisme yang lebih lambat, seperti jamur, akan terlibat dalam proses penguraian. Mereka mengubah sisa-sisa bahan organik menjadi humus, yaitu material gelap yang kaya akan nutrisi. Humus adalah hasil akhir dari pengomposan yang sangat bermanfaat bagi tanah.

Pada tahap ini, senyawa organik seperti selulosa, lignin, dan protein telah diubah menjadi senyawa yang lebih stabil dan kaya akan nutrisi. Proses kimia ini mengubah bahan organik menjadi pupuk yang meningkatkan kesuburan tanah.

Kesimpulan

Proses kimia dalam pengomposan melibatkan berbagai reaksi yang mengubah sampah organik menjadi kompos yang berguna. Mulai dari penguraian awal oleh mikroorganisme hingga pembentukan humus, semua proses kimia ini mendukung pengolahan sampah organik menjadi pupuk alami. Pengomposan yang efektif tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi tanah dan lingkungan.

Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga

Tags:

KimiaKompos
Author

admin Website

Follow Me
Other Articles
Previous

Kimia di Balik Pemanasan Global

Next

Kimia di Balik Efek Hujan Asam

Copyright 2026 — SAINS dan TEKNOLOGI. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme