Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
SAINS dan TEKNOLOGI

Menjelajah Dunia Ilmu & Teknologi

SAINS dan TEKNOLOGI

Menjelajah Dunia Ilmu & Teknologi

  • Home
  • Home
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Astronomi

Pluto dan Planet Kerdil: Mengapa Pluto Kehilangan Statusnya sebagai Planet?

By admin Website
February 24, 2025 2 Min Read
Comments Off on Pluto dan Planet Kerdil: Mengapa Pluto Kehilangan Statusnya sebagai Planet?

Pluto pernah dikenal sebagai planet kesembilan dalam Tata Surya sejak ditemukan pada tahun 1930. Namun, pada tahun 2006, statusnya berubah menjadi “planet kerdil” setelah keputusan yang dibuat oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Keputusan ini menimbulkan banyak perdebatan di kalangan ilmuwan dan masyarakat umum. Apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet?

Sejarah Penemuan Pluto

Pluto ditemukan oleh astronom Amerika, Clyde Tombaugh, pada tahun 1930. Saat itu, objek ini diklasifikasikan sebagai planet karena mengorbit Matahari dan memiliki ukuran yang cukup besar dibandingkan objek lain di Sabuk Kuiper—zona es yang berada di tepi Tata Surya.

Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, para astronom mulai menemukan objek lain di Sabuk Kuiper yang memiliki ukuran mendekati Pluto, seperti Eris, Makemake, dan Haumea. Penemuan ini memicu pertanyaan: apakah Pluto benar-benar layak disebut sebagai planet?

Definisi Baru tentang Planet

Pada tahun 2006, IAU mengadakan konferensi di Praha untuk merumuskan kembali definisi planet. Mereka menetapkan tiga syarat agar suatu benda langit dapat dikategorikan sebagai planet:

  1. Mengorbit Matahari.
  2. Memiliki massa yang cukup untuk membentuk dirinya sendiri menjadi bentuk hampir bulat (kesetimbangan hidrostatik).
  3. Telah membersihkan jalur orbitnya dari objek lain.

Pluto memenuhi dua kriteria pertama, tetapi tidak yang ketiga. Orbitnya dipenuhi dengan objek-objek lain di Sabuk Kuiper, yang berarti Pluto tidak memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk mendominasi orbitnya sendiri. Akibatnya, Pluto dikeluarkan dari daftar planet dan dikategorikan sebagai “planet kerdil.”

Pluto sebagai Planet Kerdil

Meskipun Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet utama, statusnya sebagai planet kerdil tetap membuatnya menarik bagi para ilmuwan. Pluto memiliki atmosfer tipis, cuaca yang berubah-ubah, dan bahkan tanda-tanda kemungkinan adanya lautan bawah tanah.

Pada tahun 2015, wahana antariksa New Horizons milik NASA berhasil mendekati Pluto dan mengungkap banyak fakta menarik tentang dunia kecil ini, seperti keberadaan gunung es yang terbuat dari air beku dan dataran luas yang dinamakan Sputnik Planitia.

Perdebatan tentang Status Pluto

Meskipun IAU telah menetapkan definisi planet, banyak ilmuwan dan masyarakat yang masih menganggap Pluto sebagai planet. Beberapa astronom berpendapat bahwa definisi planet seharusnya lebih fleksibel, mengingat banyak objek di luar Tata Surya yang tidak memenuhi kriteria IAU tetapi tetap memiliki karakteristik mirip planet.

Bahkan, ada dorongan dari beberapa ilmuwan untuk mengembalikan status Pluto sebagai planet. Mereka berpendapat bahwa kriteria “membersihkan jalur orbit” terlalu ketat dan tidak relevan untuk menentukan klasifikasi planet.

Kesimpulan

Perubahan status Pluto menjadi planet kerdil adalah hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang Tata Surya. Meskipun Pluto bukan lagi planet utama, minat ilmiah terhadapnya tidak berkurang. Pluto tetap menjadi objek penelitian yang menarik, dan perdebatan tentang statusnya terus berlanjut.

Apakah suatu hari nanti Pluto akan kembali disebut sebagai planet? Itu masih menjadi tanda tanya. Namun yang pasti, Pluto tetap menjadi bagian penting dalam eksplorasi ruang angkasa dan pemahaman kita tentang dunia di luar Bumi.

Tags:

AstronomiSains
Author

admin Website

Follow Me
Other Articles
Previous

Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Keanekaragaman Hayati

Next

Multiverse: Apakah Kita Hidup di Alam Semesta Paralel?

Copyright 2026 — SAINS dan TEKNOLOGI. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme