Adaptasi Unik Makhluk Laut Dalam
Laut dalam adalah dunia gelap, dingin, dan penuh tekanan. Namun, banyak makhluk aneh mampu hidup di laut dalam yang punya cara adaptasi yang luar biasa untuk bertahan. Artikel ini akan mengulas bagaimana makhluk laut dalam bisa hidup di tempat ekstrem itu.
Cahaya dari Tubuh Sendiri
Di laut dalam, cahaya matahari tidak bisa menembus. Untuk itu, banyak makhluk laut menghasilkan cahaya sendiri. Proses ini disebut bioluminesensi. Cahaya ini digunakan untuk menarik mangsa, berkomunikasi, atau menghindari pemangsa.
Contohnya, ikan angler memiliki semacam “lampu” di depan kepala. Cahaya itu dipakai untuk memancing ikan lain mendekat.
Tubuh Lentur dan Tahan Tekanan
Tekanan di laut dalam sangat tinggi. Tekanan ini bisa menghancurkan tubuh makhluk biasa. Namun, makhluk laut dalam memiliki tubuh lunak dan lentur. Tulang dan organ mereka bisa bertahan di tekanan luar biasa.
Beberapa hewan bahkan tidak punya tulang sama sekali. Ini membantu mereka bertahan dalam tekanan tinggi tanpa rusak.
Penglihatan Tajam atau Tanpa Mata
Sebagian makhluk laut dalam punya mata besar. Mata ini bisa menangkap cahaya sangat sedikit. Ini berguna untuk melihat di tempat gelap total. Namun, ada juga yang tidak punya mata sama sekali. Mereka menggunakan sensor lain untuk mendeteksi gerakan dan getaran.
Misalnya, cumi-cumi laut dalam punya mata raksasa, sementara cacing laut hanya bergantung pada sensasi getaran.
Makanan dari Sisa Organik
Di laut dalam, makanan sangat langka. Makhluk-makhluk di sana sering makan sisa-sisa makhluk mati dari atas. Proses ini disebut “rain of marine snow”. Mereka juga bisa memakan sesama makhluk hidup jika perlu.
Beberapa bakteri laut dalam bahkan bisa hidup dari gas beracun seperti metana atau hidrogen sulfida.
Kesimpulan
Makhluk laut dalam menunjukkan betapa luar biasanya kekuatan adaptasi. Dengan cahaya buatan, tubuh lentur, hingga pola makan unik, mereka bisa bertahan di dunia paling ekstrem di bumi. Penelitian tentang mereka membantu kita memahami lebih banyak tentang kehidupan dan kemungkinan bertahan di lingkungan ekstrem lainnya.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga