Bagaimana Kimia Membuat Pewarna Makanan
Pewarna makanan adalah zat kimia yang ditambahkan ke makanan untuk membuatnya lebih menarik secara visual. Warna bisa membangkitkan selera makan, memberi kesan segar, atau menunjukkan rasa tertentu. Tapi, bagaimana sebenarnya pewarna ini dibuat? Jawabannya berasal dari dunia kimia.
Asal Pewarna Makanan
Pewarna makanan terbagi menjadi dua jenis: alami dan sintetis. Pewarna alami berasal dari tumbuhan, hewan, atau mineral. Misalnya, warna merah dari bit atau kuning dari kunyit. Sedangkan pewarna sintetis dibuat di laboratorium dengan reaksi kimia dari bahan-bahan tertentu.
Pewarna sintetis lebih stabil dan tahan lama dibanding pewarna alami. Karena itu, banyak industri makanan menggunakannya dalam produk seperti permen, minuman, dan camilan.
Proses Pembuatan Pewarna Sintetis
Untuk membuat pewarna sintetis, para ahli kimia menciptakan senyawa khusus dengan struktur molekul yang bisa menyerap cahaya. Warna yang kita lihat adalah hasil dari cahaya yang tidak diserap oleh molekul tersebut.
Contohnya, jika sebuah molekul menyerap semua cahaya kecuali cahaya merah, maka zat itu akan terlihat merah. Kimiawan bisa mengubah struktur molekul untuk menghasilkan warna berbeda sesuai kebutuhan.
Pewarna sintetis harus melalui banyak pengujian untuk memastikan aman dikonsumsi. Badan pengawas makanan seperti BPOM atau FDA di Amerika mengatur penggunaannya secara ketat.
Peran Kimia dalam Stabilitas Warna
Warna makanan harus tetap menarik selama penyimpanan, pemanasan, atau pencampuran. Kimia membantu membuat pewarna yang tahan terhadap cahaya, panas, dan keasaman. Beberapa zat kimia ditambahkan untuk menjaga warna tetap cerah, seperti antioksidan atau pengatur pH.
Kimia juga memungkinkan pewarna larut dalam air atau minyak, tergantung jenis makanan yang akan diberi warna.
Kesimpulan
Pewarna makanan adalah hasil dari pengetahuan kimia yang cermat. Baik yang alami maupun sintetis, semuanya dibuat atau diproses dengan ilmu kimia untuk memastikan warna, keamanan, dan stabilitas. Tanpa kimia, makanan mungkin terlihat kurang menarik, dan pengalaman makan pun jadi kurang menyenangkan.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga