Bagaimana Ilmuwan Mengukur Jarak Bintang?
Mengukur jarak bintang bukan hal mudah. Tidak ada pita pengukur sepanjang tahun cahaya. Namun, ilmuwan punya cara cerdas menggunakan hukum fisika dan teknik pengamatan. Beberapa metode digunakan tergantung pada seberapa jauh bintang tersebut.
Paralaks: Metode untuk Bintang Dekat
Paralaks adalah teknik dasar dan sangat akurat untuk bintang yang relatif dekat. Caranya mirip saat kita menutup satu mata, lalu mata lainnya—objek tampak berpindah posisi.
Ilmuwan melakukan hal yang sama dengan Bumi. Saat Bumi berada di dua titik berbeda dalam orbitnya (jarak 6 bulan), posisi bintang tampak sedikit bergeser terhadap latar belakang bintang yang sangat jauh. Pergeseran sudut ini disebut sudut paralaks.
Dengan rumus sederhana, jarak bisa dihitung menggunakan:
- Sudut paralaks (dalam detik busur)
- Jarak dari Bumi ke Matahari (1 satuan astronomi)
Satuan yang digunakan adalah parsec (1 parsec ≈ 3,26 tahun cahaya).
Kecerahan dan Bintang Standar
Untuk bintang yang terlalu jauh untuk paralaks, ilmuwan menggunakan metode magnitudo. Setiap bintang memiliki kecerahan sebenarnya (magnitudo absolut). Jika kita tahu seberapa terang bintang itu seharusnya, dan membandingkannya dengan seberapa terang ia tampak dari Bumi, kita bisa menghitung jaraknya.
Bintang seperti Cepheid variable dan supernova tipe Ia sering digunakan sebagai “lilin standar” karena pola cahayanya bisa diprediksi.
Pergeseran Spektrum (Redshift)
Untuk galaksi dan bintang yang sangat jauh, ilmuwan menggunakan redshift. Semakin cepat objek menjauh dari kita, semakin panjang gelombang cahaya yang diterima (menjadi lebih merah).
Dengan mengukur tingkat pergeseran ini, serta memperkirakan kecepatan menjauhnya, jarak dapat dihitung berdasarkan perluasan alam semesta.
Peran Teleskop dan Satelit
Teleskop modern seperti Gaia milik Badan Antariksa Eropa telah mengukur jarak lebih dari 1 miliar bintang dengan presisi tinggi. Misi ini sangat penting untuk membuat peta 3D galaksi kita.
Kesimpulan
Ilmuwan tidak bisa mengukur jarak bintang secara langsung, tapi mereka punya metode cerdas berbasis pengamatan dan fisika. Dari paralaks hingga redshift, semua teknik ini membantu kita memahami posisi dan skala alam semesta dengan lebih baik.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga