Bagaimana Sains Menghitung Usia Alam Semesta?
Usia alam semesta adalah salah satu pertanyaan paling mendasar dalam kosmologi. Berdasarkan pengamatan dan perhitungan ilmiah, para ilmuwan memperkirakan bahwa alam semesta berusia sekitar 13,8 miliar tahun. Tapi bagaimana sains bisa menghitung usia alam semesta yang begitu besar dan tak terjangkau?
Mengamati Cahaya dari Masa Lalu
Cahaya membutuhkan waktu untuk melakukan perjalanan. Ketika para astronom melihat objek jauh di angkasa, mereka sebenarnya melihat masa lalunya. Misalnya, jika sebuah galaksi berjarak 1 juta tahun cahaya, maka cahaya yang kita lihat hari ini berasal dari 1 juta tahun yang lalu.
Dengan teleskop canggih, ilmuwan dapat mengamati galaksi-galaksi paling awal yang terbentuk setelah Big Bang. Ini memberi petunjuk tentang kapan alam semesta mulai terbentuk.
Radiasi Latar Belakang Kosmik
Salah satu bukti utama adalah radiasi latar belakang kosmik (CMB), yaitu sisa panas dari Big Bang. CMB ditemukan pada tahun 1965 dan menjadi dasar penting dalam menghitung usia alam semesta.
Radiasi ini berasal dari masa sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang, ketika alam semesta cukup dingin untuk membentuk atom pertama. Dengan mempelajari suhu dan pola penyebaran radiasi ini, ilmuwan bisa melacak waktu sejak Big Bang terjadi.
Hukum Hubble dan Ekspansi Alam Semesta
Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauh dari kita. Semakin jauh galaksinya, semakin cepat ia menjauh. Ini berarti alam semesta sedang mengembang.
Dengan mengukur laju ekspansi ini, yang disebut konstanta Hubble, ilmuwan bisa menghitung mundur ke waktu ketika semua galaksi berada dalam satu titik—yaitu saat Big Bang. Dari perhitungan ini, usia alam semesta diperkirakan sekitar 13,8 miliar tahun.
Namun, nilai konstanta Hubble masih menjadi perdebatan, karena hasil dari metode yang berbeda bisa sedikit berbeda. Meski begitu, semua perhitungan tetap mendekati angka 13 miliar tahun lebih.
Pengamatan Bintang dan Galaksi Tertua
Selain itu, ilmuwan juga mengukur usia bintang tertua yang ditemukan. Jika sebuah bintang berusia sekitar 13 miliar tahun, maka alam semesta harus lebih tua dari itu. Ini menjadi batas bawah yang penting.
Kumpulan bintang kuno seperti yang ada di gugus bola (globular cluster) digunakan untuk memperkirakan usia minimum alam semesta melalui analisis kimia dan kecerahannya.
Kesimpulan
Sains menghitung usia alam semesta dengan menggabungkan berbagai data: radiasi latar belakang kosmik, laju ekspansi galaksi, dan usia bintang tertua. Melalui pendekatan ini, para ilmuwan sepakat bahwa alam semesta berusia sekitar 13,8 miliar tahun. Meski tidak bisa melihat awalnya secara langsung, cahaya dan data dari masa lalu memberi kita petunjuk yang sangat kuat.
Referensi: Sains dan Teknologi | Universitas Airlangga